This is what a new mom have to deal with…

 

 

 

 

 

 

 

 

Mmmhhh… Saya ndak tau ya.. apakah semua ibu pernah mengalami ini? Mengalami peristiwa di mana ia digurui dan  disalahkan oleh orang lain yang merasa lebih benar dan lebih berpengalaman dalam hal kehamilan, menyusui, mendidik anak dll..

Peristiwa terjadi kemaren, ketika teman laki-laki saya bercerita bahwa istrinya baru saja melahirkan. Kemudian dia bertanya “bagaimana ASI-nya kalau ditinggal ke kantor?” lalu saya bilang kalau ASI diperas, masukkan freezeer. Untuk menjaga kualitas dan kuantitas ASI, saya minum dan makan berbagai macam,  seperti makan yang banyak protein, sayur, susu, suplemen dan jamu.

Mendengar kata “jamu”, tiba-tiba teman perempuan saya langsung menukas. “Kok minum jamu, sekarang kan belum butuh, nanti mencret, saya kan sudah bilang dulu.. bla bla bla…, kok nggak percaya??!!!” dengan nada yang membuat miris karena menganggap bahwa pendapatnya yang paling benar sedunia dan semua orang harus patuh.

Tentu saja saya sudah hapal dengan tabiat orang ini,  ada kalanya saya  bersikap manut dan mengiyakan biar pembicaraan tidak bertambah panjang. tapi ada kalanya saya capek dan berontak…

dengan gagah berani saya bilang..

“Ibu, alhamdulillah anak saya tidak mencret dan dari pengalaman saya, jamu sangat membantu ketika saya sedang Prajabatan dan produksi ASI menurun karena capek dan stress. Ibu, tiap ibu dan bayi itu punya pengalaman unik masing-masing dan tidak bisa disamakan!”

ibu tersebut masih dengan sengit mendebat berdasarkan pengalamannya mempunyai anak hampir 20 tahun yang lalu.

“Iya Ibu, tapi banyak faktor yang mempengaruhi bukan? Bagaimana dengan makanan yang dikonsumsi sang ibu, daya tahan bayi, cuaca, lingkungan tempat tinggal, dll ?

*pembicaraan selesai*

Oh Tuhan… tentu saja saya berterimakasih atas semua resep dan saran dari semua ibu-ibu yang sudah pernah hamil & menyusui bertahun-tahun yang lalu, yang kemudian banyak dari mereka berkecenderungan untuk membagi pengalaman mereka. Tentu itu baik sekali.. tapi yang saya risaukan bukan itu… Tolonglah jangan merasa bahwa pengalaman anda itu yang paling benar bu.. dan semua orang harus berpengalaman seperti ibu… Tolonglah nadanya jangan menggurui dan menganggap bahwa yang tidak sama dengan ibu itu tidak baik dan salah besar.

Hamil berapa bulan, kok nggak keliatan, kok masih kecil perutnya?Jangan makan pedes, nanti ASInya jadi pedes, jangan minum jamu nanti mencret, jangan ini jangan itu…. kenapa ini kenapa itu…

Kalau saya sedang berlapang hati saya hanya senyum dan mengiyakan saja  tapi kalau saya sedang capek ‘behave’ semua kalimat yang terlontar di atas akan saya debat…

Mungkin teman-teman saya yang seumuran juga pernah mengalami ini? Antara jengkel dan mafhum, antara menghormati pendapat orang dan geregetan, antara cemas dengan perkembangan bayi dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja…

Gusti Allah nyuwun pangapuro…

Tentu saja kami berlindung pada Mu Gusti… dan semua ibu tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, sebagaimana semua bayi adalah spesial dan anugerah dariMu… Tuntunlah kami jalan yang terbaik, yang Engkau Ridho dunia akherat… Janganlah kami menjadi yang merasa paling benar, yang paling baik, dan segalanya…

Amiin..

 

 

 

Ya Robbi Anzilni Munzalan Mubarokan..

Ya Robbi Anzilni Munzalan Mubarokan, Wa Anta Khoirul Munzilin…

Ya Robbi,tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati,dan Engkau adalah sebaik baik yang memberi tempat

Hari ini Kepala Seksi saya resmi diganti, beliau dipindah ke UPTD Museum Sonobudoyo. pemberitahuannya mendadak, bagai petir di siang bolong, tanggal 2 Januari kemaren tanpa ba bi bu surat keputusan mendarat dengan mulus. Kami saja -para stafnya- yang terkaget-kaget tidak percaya. Bagaimana tidak? rencana tahun 2012 sudah dipersiapkan, beliau baru saja bilang akan rapat koordinasi seksi. lalu tiba-tiba semuanya berubah total…

Mungkin begitulah hidup ya… tak ada yang abadi.

Ketika kami yang satu seksi sudah bisa saling kenal, dalam suka duka, panik bersama, kemudian keseimbangan itu harus tercerabut. Lalu adaptasi lagi, penyesuaian lagi, berjalan lagi.. life goes on…

Kemudian.. saya pun harus menyiapkan diri juga kan… bersedia ditempatkan di mana saja.

Semoga semua ini karena memang Allah yang menugaskan, yang menyuruh untuk ada di mana dan mengerjakan tugas apa. Apa yang saya punya di dunia ini sahamnya 100% milik  Gusti Allah. Maka Gusti Allah, Kulo nyuwun diparingi sedoyo ingkang sae donya akherat.. Lillahita’ala…

Amiiin ya Robbal ‘alamiin…

Keinginan itu menyiksa jendral!!

Image

Keinginan itu menyiksa Jendral!!

Mungkin memang manusiawi ya, kalau yang namanya kebutuhan itu berkembang sesuai masanya. kemaren tidak belanja diapers, sekarang belanja diapers + aneka hal tentang bayi. Karena ada Bayi  mungil di keluarga kami. Tapi kalau keinginan tersebut berbentuk ‘kebutuhan’ untuk berganti tas, itu perlu sedikit dikritisi.

Betul, tas…

Tas yang bagaimana? Mmhh.. tas yang cocok buat kerja, wangun kalo ditenteng, bahan bisa dari kulit atau rajutan nylon, warna kalem, jangan yang bling-bling dan norak, pengkuh (kuat), tahan lama, dan muat banyak barang. lha emangnya sekarang tidak punya tas yang plang-plung semua bisa masuk dan luwes? ya ada sih… tas kain hadiah Body Shop? lha kenapa ribut pingin tas baru?

Atas nama dunia konsumsi, inilah gilanya pencitraan, saudara…

Saya tau ini sangat sepele. Ibu-ibu  dan mbak-mbak di luar sana bisa koleksi sekian tas untuk berbagai acara. Saya hanya tidak ingin terjebak di dunia absurd, sampai-sampai harus berebut tas merk tertentu di suatu pameran, itu lucu tapi serius kan?

Satu minggu ini saya sedang penasaran dengan tas rajutan nylon buatan Godean Sleman yang sudah menembus pasar Amerika dan Eropa. Dan memang bagus dan kuat sih… tapi masih harus membandingkan dengan produk lokal lainnya yang berbahan kulit, siapa tahu ada yang cocok. Lucunya, keinginan ini begitu menguasai. Ndak bayangin deh kalau nanti saatnya tiba untuk datang ke showroomnya, saya akan kalap dan keinginan merembet dari hanya sekedar 1 tas saja. Itulah mengapa keinginan ini harus direm.. bukan berarti tidak boleh beli tas ya… tapi harus bijak me-manage- keinginan ini. Mungkin di saat nanti sudah tak begitu pingin tas lagi, saya justru akan membelinya. Jadi euforianya sudah berkurang. mungkin begitu… hehehehe….

Tas -tas yang saya taksir memang bukan secanggih Hermes atau Prada. Dan saya juga tidak menggilai merk-merk impor tadi. Apalagi bersusahpayah mencari produk KW-nya. Prinsip saya, kalo tidak bisa beli yang asli mending tidak usah beli. Belilah tas unik, genuine dan orisinil. Tas yang nyaman saat panas maupun hujan. Tas yang santai dipakai, bukan yang membuat pemakainya cemas kalau-kalau tas nya lecet. Itu sudah berlebihan menurut saya…

Eniwei, kalau berdasarkan fungsi utama tas, tas kain yang sekarang saya pakai sudah memenuhi fungsi utamanya. Jelek-jelek begitu tas kain saya memang bisa basah kena hujan, tapi kalau kotor tinggal dicuci, dan dipakai lagi. Praktis, no hard feeling… hati tenang dan tidak berdebar-debar kalo ada yang lecet.

Tapi kalau kemudian dihubungkan dengan ’pencitraan dan gaya hidup‘,  tentu tak pernah ada yang cukup kan?

Dan keinginan memang menyiksa bukan?

Sudahlah, suatu saat nanti, kalau tas idaman sudah di tangan, semoga saya tidak segila ibu-ibu yang menenteng tas bagai menenteng berlian. Biasa saja… Paling-paling kalau saya mau pulang ke rumah dan turun hujan, saya bungkus tas idaman tadi dengan plastik.. praktis…

No hard feeling..

Setahun ini..

Setahun tidak nulis apa2 di blog ini menunjukkan betapa luar biasanya setahun ini. Sampai tidak kuasa menulisnya… Huehehehe.. Alasan saja! Eh, tapi memang benar2 ‘definitely sumthing’ kok.. Sejak desember tahun lalu saat pengumuman ujian cpns yg merubah rencana2 ke depan; yang artinya petualangan menjelajah pelosok negeri dgn senjata kuesioner dan bolpen biru akan berakhir atau lebih tepatnya sudah tidak akan saya tempuh lagi, dan petualangan ke sumbawa, mandar dan luwu timur adalah yg terakhir.
Setelah kabar pertama tadi, kemudian diketahui bahwa saya hamil. Alhamdulillah, sebenarnya sudah ada perasaan ‘rawan’ saat tahun baru di gelanggang UGM dan ngayogjazz di rumah Joko Pekik. Rasa rawan itu piye yo.. Seperti ada sesuatu yang fragile tapi pasti, yang tumbuh di dalam tubuh. Sampai akhirnya periksa di dokter (ndak berani test pack di rumah) dengan hasil positif barulah meyakinkan diri bahwa ini benar terjadi. Mual hanya 2 bulan pertama, setelahnya santai saja.
Bulan semester pertama dilalui dengan baik, mas wawan ke grobogan untuk penelitian, bapak sibuk dengan kyai kanjeng, ibu dengan KBnya. Ndak boleh pergi2 sama bapak, padahal tidak tahan di rumah, tapi demi kesehatan janin ya harus dipatuhi.

Kalau kemudian keseimbangan semesta berubah karena Bapak sedo tgl 20 Juli itu bukan berarti dunia berhenti berputar. Saat kabar datang bersama rawuhnya ibu, mbak via, bik In dan bu Wahya ke kantor bahwa bapak sedo dalam tidurnya, dengan posisi yg tak berubah, di sidoarjo untuk tugas Kyai Kanjeng, tentu saja rasanya seperti ada lubang besar menganga. Dengan pertanyaan pertama : ‘lho pak, lha pripun niki putune? Sebentar lagi lahir lho’ Tapi detik kemudian berpikir, ‘ah ya sudah iki urusane Gusti Allah, wis manut wae’ maka tenanglah saya. Toh, ini semacam bapak melanjutkan perjalanan baru dan sudah bebas dari beban2 duniawi. Meninggal kan tidak berarti ‘tidak ada’. Bapak tetap ada tapi dengan dimensi dan entitas yang belum saya tempuh. Gitu saja sih… Urusan bapak ndak ketemu putunya itu hak prerogratif Gusti Allah. Lha emang pertemuan itu harus dalam arti wujud yang wadag po? Bukankah semesta ini tercipta dengan berlapis2 dimensi? Mbok-mbok Gusti Allah mengizinkan, insyaallah bapak sudah gojegan sama danurdoro. Toh, dunia ini fana-fana saja to, ndak perlulah didramatisir… ˇ•нεнεнε ☺•ˇ
Jadi kalo ada orang yang maunya berbelasungkawa tapi dengan nada penyesalan pasti langsung saya potong dengan tegas. Piye to arek iki? Lha wong bapak yang dipundut saja dengan santai menerima dan setuju kok iki malah koyo ngene.

Oh, tentu saya kangen bapak. Segala hal tentang bapak. Tapi semua pengalaman dengan bapak itu rasanya sudah sempurna, cukup, dan tepat pada saatnya. Dari ngobrol tentang jamaah maiyah, om-om KK yang aneh lucu dan ajaib, hal-hal sehari-hari, makan siang berdua di jejamuran, ngopi berdua di starbuck, membahas buku, jalan2 di amplaz berdua, semuanya itu tidak terlupakan. Atau bahkan saat marahan, hehehehhe.. Semua manusiawi dan hidup dirayakan dengan sederhana..
Oleh karena itulah, kurang dari 2 bulan setelah bapak sedo, Danurdoro lahir. Dan nama depannya adalah Zainunnur yang artinya cahaya yang indah. Nama ini oleh mbah Nun diambil dari nama bapak ‘Zaenuri’ dengan pengkoreksian sehingga tepat secara arti dan tulisan. Afia untuk nama tengah karena ia lahir jumat. Dan Danurdoro untuk menegaskan darah Jawa, yang berarti kaya ilmu. Amiieeenn

Jadi, hidup tetap berlanjut. Petualangan baru menanti. Bismillah, semoga keseimbangan baru terbentuk dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana semoga bapak diberi tempat yang sebaik-baiknya juga.. Insyaallah ketemu lagi ya bapakku..
Amiin ya robbal alamin..

Ketika kami membacanya dengan sudut pandang yang berbeda..

Hampir setahun ini menikah, akhirnya saya berhasil memaksa Mas Wawan -suami saya- untuk membaca novel sampai tuntas dan membahasnya. Dulu proyek ini tidak terlalu berhasil ketika saya menyodorkan ‘The Virgin Blue’ nya Tracy Chevalier. Kenapa ‘The Virgin Blue’? Soalnya novel ini begitu perempuan, romantis, ada bumbu sejarah sekaligus intuitif. Saya penasaran dengan sudut pandang Mas Wawan. Bagaimana dia menelaah karakter, bagaimana dia beradaptasi membaca novel non-Indonesia dengan gaya penulisan yang berbeda, bagaimana ia memaknainya. Tapi nampaknya novel itu tak tuntas terbaca atau kami tak sempat membahasnya.

Dan sekarang, novel yang berhasil terdedah itu adalah ‘Manjali dan Cakrabirawa’ nya Ayu Utami. Novel yang dengan girang saya beli dan lahap dalam waktu kurang dari 24 jam. Menuntaskan rindu saya pada Yuda, Parang Jati dan Marja yang sudah saya kenali dari novel induknya ‘Bilangan Fu’. Novel tebal yang saya beli 2 tahun yang lalu untuk menemani perjalanan saya ke Lampung. Memang harus selalu ada buku untuk dibaca, rasanya sepi tanpa buku yang menemani. Begitu juga ‘Manjali dan Cakrabirawa’ yang menemani saya jalan-jalan di Jakarta.

Saat kami duduk di peron menanti kereta di Stasiun Gambir –dia dari Bogor naik Pakuan Ekspres sedang saya naik kopaja dari Semanggi, kami memang sengaja mengepaskan jadwal pulang ke jogja- saya sodorkan novel itu dan membujuk untuk membacanya. Dan berhasil. Walaupun butuh waktu berhari-hari untuk menuntaskannya di sela-sela persiapan ke Solo. Alhasil, dari perbincangan via telepon, mas wawan berpendapat:

‘Alur novel ini melompat-lompat tetapi  menarik. Akan tetapi ada unsur-unsur yang sepertinya tidak terselesaikan. Seperti penggarapan dongeng Airlangga dan Calwanarang yang mengundang misteri di awal cerita tetapi tidak terbahas di akhir cerita. Akhir cerita ini juga membuat kecewa karena berujung pada misteri masa lalu Ibu Murni yang mantan Gerwani dan suaminya mantan Cakrabirawa. Kok ending nya lari ke sini? Apa hubungannya dengan Airlangga dan Calwanarang? Sedangkan premis-premis sebelumnya memperkuat gaung bahwa ada kaitannya dengan kisah Calwanarang itu. Penjelasan tentang hubungan darah mens Marja ketika menginap di halaman Candi Calwanarang dengan tudingan orang yang kesurupan tentang penodaan candi tidak memuaskan juga. Kenapa tidak diceritakan dengan gamblang bagaimana kisah cinta Marja Manjali, Sandi Yuda dan Parang Jati selanjutnya? Kontribusi aneh Haji Samadiman yang mengirim surat kepada orangtua Marja agar menamainya Manjali juga terasa janggal. Intinya, endingnya tidak sesuai yang diharapkan. Khusus untuk Parang Jati dan Marja, atas nama persahabatan Sandi Yuda dan Parang Jati, hubungan Parang Jati-Marja memang sepantasnya mentok walaupun kasih mereka sampai. Dan pepatah lama memang bilang, jangan titipkan kekasihmu pada sahabatmu. Berbahaya dan beresiko.’

Hmmm… lalu saya jawab begini, akhir cerita tiga manusia itu sudah ada di ‘Bilangan Fu’, dan novel ini adalah sempalan ‘bab’ yang tak terceritakan di ‘Bilangan Fu. Maka akhir cerita cinta segitiga ini memang mengambang.

Tapi kata Mas Wawan yang belum pernah membaca ‘Bilangan Fu’, dia tidak peduli dengan ‘Bilangan Fu’, dia membaca ‘Manjali dan Cakrabirawa’ secara tunggal, dan novel ini begitu datar di akhir cerita. Sedang saya yang sudah membaca ‘Bilangan Fu’, memaklumi akhir yang mengambang itu.

Untuk beberapa hal memang kisah Airlangga dan Calwanarang tidak tuntas di akhir cerita, baiklah saya amini. Walaupun saya menganggap kisah Airlangga dan Calwanarang beserta candi yang sedang digali ini adalah pengantar untuk cerita Gestapu berikutnya. Nampaknya memang unsur sentilan tentang prahara itu sengaja dikoyak untuk menunjukkan posisi pilihan Ayu mengenai tragedi berdarah itu. Sebagaimana Seno Gumira Ajidarma juga menjadikannya latar belakang cerita itu bersama Alena.

Untuk ketakutan Marja tentang darah mens nya yang menodai kesucian candi sudah dijelaskan Parang Jati, bahwa ketakutan itu ada dalam pikirannya yang diolah dengan logika yang timpang. Sedangkan ada banyak kemungkinan sebab dari tudingan penodaan candi itu yang gagal dilihat Marja. Saya pikir Parang Jati sudah cukup jelas menjawabnya.

Nama Manjali dari Haji Samadiman memang sengaja diangkat di akhir cerita untuk menunjukkan bahwa teka-teki ini belum berakhir. Mungkin itulah bedanya teka-teki dan misteri.

Lalu untuk Marja dan Parang Jati? Ganti saya yang kecewa dan geram. Kenapa gairah harus sublim dalam narasi? Kenapa mereka tidak bercinta? Marja merasa nyaman dan menyatu secara lembut dengan Parang Jati, ini sesuatu yang sakral bagi saya, daripada gairah yang banal dan liar bersama Sandi Yuda. Tetapi hubungan Marja dan Parang Jati mentok di persahabatan.

“Kasihan Parang Jati kalau mendapatkan Marja, dia sudah milik sahabatnya. Dia bekasnya Yuda. Parang Jati lebih pantas mendapatkan yang lebih baik.” Kata Mas Wawan.

“Lho, kalo cinta kan tidak melihat dia bekas atau tidak, kok ukurannya jadi begitu?” protes saya. Kalau Mas Wawan jadi Parang Jati apa yang akan dilakukan?

“Menjadikan Marja sebagai sahabat saja, bukan kekasih, atas nama persahabatan antar lelaki, Sandi Yuda dan Parang Jati. Dan memang sudah seharusnya begitu. Toh rasa itu sampai dengan cara dan kapasitasnya sendiri.”

Hmmm… mungkin begitu ya, ada manis yang perih, ada kesempatan dan pilihan.

Jadi, ketika Mas Wawan membaca dengan berjarak dan menempatkan karakter sebagai lakon dalam lelakon, saya justru tenggelam dalam cerita. Saya menempatkan gundahnya Marja sebagai gundahnya saya, seandainya memang ada seseorang bernama Parang Jati itu. Lalu ketika novel tuntas terbaca, gegarnya masih merajai pikiran saya, mempertanyakannya dan seolah-olah mencoba berada di dunia Marja dan Parang Jati.

Itulah kenapa sehari setelah membaca saya bergegas menuju Museum Gajah dengan berjalan kaki dari Stasiun Gambir.

-Seperti perjalanan Marja dan Parang Jati di akhir cerita; dan membayangkan di mana mereka berdua berpisah dengan Yuda yang naik bis dari Stasiun Gambir menuju RSPAD untuk menjenguk Musa Wanara.-

Cerita ini melekat di benak saya dan saya mencari jejak momentum di sudut-sudutnya. Seperti menziarahi sejarah.

Di Museum Gajah, saya sisiri arca demi arca lalu tersenyum lega ketika arca Syiwa Bhairawa di depan mata, besar menjulang. Dan mematut-menekuni makna di baliknya. Saat sudah di Jogja dengan segera saya membaca Bilangan Fu lagi secara acak, seperti ingin mengenal Parang Jati jauh lebih dalam.

Jadi, ketika mas wawan membaca novel ini sebagaimana aktor membaca naskah teater dan mencari ketidaksinambungan yang mengganggu jalan cerita dan mengkritisinya. Saya justru sedikit tidak peduli ketika alur cerita membelok ke arah yang berbeda, malah tenggelam dan seolah-olah berada di sana. -Saya dan Parang jati dalam perjalanan meniti candi-candi di Jawa timur.- Ketika Mas Wawan mengkritisi hubungan cinta segitiga dengan alasan yang masuk akal, saya malah menyayangkannya. Kenapa Marja dan Parang Jati tak bersatu?

Ketika kami membacanya dengan sudut pandang yang berbeda. Ketika Mas Wawan mengkritisi dan saya justru jatuh cinta pada Parang Jati..

 

 

p.s.: Maturnuwun untuk Vina ‘kuky’ Noor yang menemani jalan kaki di siang yang terik menuju Museum Gajah dan Mbak Mita Sari Apituley yang menjawab pertanyaan saya.

Dan saya sedikit tersesat di dalamnya..

Malam hari setelah saya meng-update blog ini, duduk di barisan depan beralaskan tikar menikmati lagu Old Devil Moon-nya Jamie Cullum dinyanyikan dengan rancak dalam acara “Jazz Mben Senen” di Bentara Budaya itu saya tersenyum-senyum sendiri. Lebih tepatnya setengah geli ketika teringat tulisan saya tentang sepatu tali kulit baru berwarna merah dan bersol datar itu. Faktanya sepatu sandal itu memang saya pakai dan tampak manis sekali dipadukan dengan kain batik tulis Pancur-Rembang dengan kombinasi warna cokelat-ungu-kuning dan merah tentu saja.

Timbul pertanyaan begini: kenapa saya harus membutuhkan kejutan berupa sepatu untuk memplokamirkan bahwa saya melanjutkan hidup dan punya semangat baru. Kenapa saya membutuhkan entitas di luar diri saya untuk menambah rasa percaya diri saya?

Jujur saja, peran sepatu yang nyaman dipakai di kaki kita, dengan model terbaru, warna yang begitu menarik, dan cocok dengan kain batik yang saya kenakan betul-betul seolah-olah menambah derajat percaya diri. Lalu apa salahnya dengan itu semua? Kenapa tidak?

Jawaban praktis memang begitu. Kenapa tidak? Toh saya melakukannya dengan sadar dan bahagia.

Kemudian ingatan merembet ke barang-barang saya beberapa tahun ini yang sepertinya mencerminkan selera saya. Dengan bangga saya meneteng tas kain The body Shop berwarna krem salem dengan tulisan melingkar tentang prinsip-prinsip kemanusiaan perusahaan kosmetik ini yang sebenarnya adalah bahasa lain dari iklan. Muklas dan tika pernah dengan usilnya mengusik saya dengan pernyataan : “Mau-maunya mengiklankan body shop, harusnya mereka bayar kamu dong mbak.” Saya sih senyam-senyum sendiri. Kenapa ya? Apakah kalau memakai kosmetik ini saya merasa percaya diri? Ya, jawab saya. Apakah saya merasa nyaman? Ya, tentu saja. Apakah saya merasa berkelas dan jauh berbeda dengan kosmetik-kosmetik murahan yang dipajang di hipermarket? Ya, saya amini semua itu.

Ini seperti menunjukkan pilihan kita bahwa saya memakai kosmetik yang mempunyai asas-asas kemanusiaan terpuji, -against animal testing- misalnya, dan sederet prinsip-prinsip yang tidak dimiliki perusahaan lain. Walaupun sebenarnya bisa jadi memang saya begitu termakan oleh slogan-slogan itu. Saya termakan rayuan iklan. Saya termakan simulakra.

Awalnya dulu saya sudah berjanji untuk hanya mengonsumsi Body Mist seri ‘Oceanus’ saja. Wanginya mengingatkan saya akan perjalanan 4 hari ke Bali 2007 lalu. Entah mengapa ketika mencium aroma lautnya saya begitu nyaman dan tersihir. Tetapi yang terjadi kemudian, saya membeli dengan patuh dan kontinyu lip balm, lip gloss, roll on, body lotion, shower gel, compact powder, body scrub, facial mask, facial wash, moisturizer, night cream dan berbotol-botol pengharum tubuh dengan aroma yang berbeda. Bahkan saya sudah mendapatkan gift berupa 3 buah pin karena mengembalikan wadah-wadah kosong ke gerainya untuk didaur ulang. (tiga wadah bekas berhak mendapat 1 pin bertuliskan -lagi-lagi- slogan yang diusung).

Jadi, bukankah ini bentuk pertanggungjawaban perusahaan untuk setia pada komitmen memerangi pemanasan global? Dan saya turut mendukungnya bukan?

Ada yang salah dengan semua ini?

Lalu ingatan saya merembet ke barang-barang lain yang saya gandrungi. Pernah saya membeli sepatu Kickers dan Gosh dalam waktu 2 minggu tanpa perlu berpikir dua kali. Alasannya simpel saja, saya belum punya sepatu warna itu atau model yang seperti itu. Padahal sepatu-sepatu lain yang teronggok di rak masih bisa dipakai.

Jauh-jauh hari dulu, tipe alas kaki saya adalah –all occasion- alias alas kaki itu harus nyaman dan bisa dipakai ke semua acara dan tempat. Tak ada istilah untuk mencocokkan dengan ke mana saya akan pergi, pakaian apa yang dipakai, warna maupun semua pertimbangan yang menyertai. Dan saya baru membeli yang baru ketika alas kaki tersebut rusak.

Nampaknya semuanya berubah bukan?

Kenapa saya setia dengan merek-merek tertentu untuk baju yang saya pakai? Kenapa saya gandrung untuk minum a grande mug of dark bitter hot Americano coffee di Starbuck di saat saya ingin merayakan kebahagiaan maupun kesedihan? Kenapa saya harus makan di warung vegetarian yang menjanjikan masakannya bebas produk hewani dan tidak memakai bumbu penyedap?

Kenapa kita memilih sesuatu?

Baiklah, ini seperti permainan identitas diri. Atau mungkin ini pilihan dengan segala resikonya yang saya ambil dengan sadar. Ya, bisa jadi. Tapi mari kita kembali ke pertanyaan utama di awal tadi.

Kenapa saya membutuhkan entitas di luar diri saya untuk menunjukkan siapa saya?

Harusnya, saya adalah pribadi yang tidak tergantung dengan embel-embel apapun di luar diri saya. Harusnya saya merasa cukup dengan diri saya dan berbahagia.

Idealnya memang begitu.

Apakah ini adalah bentuk mengisi kekosongan jauh di dalam jiwa saya? -Membeli dua merek sepatu mahal untuk ukuran kantong saya dalam waktu kurang dari dua minggu menunjukkan betapa impulsive dan emosionalnya saya, bukan?-

Baiklah, mungkin begini, dunia dimana kita hidup ini penuh sesak dengan simulakra. Dan saya sedikit tersesat di dalamnya. Kalau boleh saya membela, sebenarnya tanpa semua barang-barang itu saya tetap hidup dan bernafas kok. Hanya kadang-kadang mau-tidak mau saya membutuhkan dan menikmati ini semua.

Idealnya kita tak membutuhkan semua simulakra konsumtivisme tadi. Idealnya kita tidak membutuhkan barang apapun di luar diri untuk menunjukkan siapa kita. Kita sudah utuh, seutuh-utuhnya kita.

Saya tersenyum-senyum sendiri memikirkan ini semua, sembari mengetuk-ngetukkan kaki menikmati irama jazz. Ah, ya, jazz, musik jazz? Kenapa saya menyukai jazz?

Haha, nampaknya benak saya penuh pertanyaan malam itu..

Kotagede, the last day of March 2010

a pair of red shoes to change your life…

Trust me, the only thing you need most during your hormonal catastrophe is a pair of new shoes. Style is your choice but for me a pair of red stripped leather shoes is really-really suits me… thanks to mbak meidi who made my dream come true…
It all begun with my failed pregnancy. He/she must have been 12 weeks old but he/she didn’t make it. We were sad at once, but life move on and we are survive. However, later, I realized that the hardest part is dealing with my unstable emotional condition. Maybe it’s because the hormone running in my body or maybe it‘s just about coping with my failure. Yes, I thought this is my own failure and feels that I didn’t capable enough. This thought became consuming day by day and everything was in a mess.
But I have to stop! Take a deep breath and think rationally.
So, what I needed most is having deep and enlightening conversations with my beloved friends and having a solitary trip on a train. Because the train is moving so fast with me in it, it gave me the atmosphere that life is moving and so does my life.
And then, here come the shoes. Wait, it doesn’t mean that the red shoes is more precious than my pregnancy! No! No at all! The shoes is symbolizing a new energy for me. After the breakdown and an almost broken-hearted condition, I need a sanctuary, or maybe a lovely souvenir to remind me that this bitter-sweet experience have had been through.
The flat soled shoes with red leather stripped around my legs. It feels comfortable, relaxin g, and the important thing is the red color. Then i suddenly was willing to write again after a long- long time.
Honestly, It’s been months since I updating my blog. I almost forget how to write. The words just didn’t come out from my thought. Even my wedding day, I thought i’m gonna write as soon as the wedding day hectic is over. I wish i could tell the wedding preparation, the irritating comments, how nervouz I was, how we managed 700 invitation cards, the caterings, or maybe the souveniers, but I was speechless and didn’t know how to start.
It seems like i’m entering the comfortable zone: I’m home. Not just physically, but also my wandering heart has found her home. He gives me love, more than i have imagined before. I feel secure, safe and sound..
Then I realized that no poems were written. There were no anxieties from where my poems have their energy. Let’s say those period was over. And I face new life – new challenge.
And then, after this failure, I try to write again. Even though there are no poems yet, but the important thing is I begin to rearrange my life. Writing is simple and yet also a meditating activity. So here I am, typing words by words, contemplating my self and survive.. or at least we try…

I am Home

lonely lonesome

lonely lonesome

            Well, finally I am home after finishing a year research in Lampung, Sumatra. Fiuhh.. It was amazing but also consuming for me. To know those people, to taste their traditional cuisine, to understand their habit, to learn their languages, and the important thing is to adapt with their work time. Early in the morning the farmers have already in their rice field and in the afternoon, they tend their cows, carabaos or goats. Therefore, it is just our luck if it’s so hard to interview them. The other case is one of those six villages is inhabited with rich and busy merchants. It means we have to face another challenge to ensure them that this research is worth enough to accomplish.

 

            I’m still wondering about these people, especially those who were migrated from java island years before. They were arriving in the deep forest, in the valley of uninhabited hill and mountains, with limited accommodation and facility. With patience and hard work they cultivate the land into coffee, pepper, cocoa, clove, banana, cassava, corn, rice, vegetable farmland. Some people who have coffee plantation in the hill build a small wooden hut to take a rest during the harvest time and live once a while before the harvest time to fertilize and to weed the farmland. During June to august is the season for the farmers to cultivate their coffee bean, plucking  millions of red coffee bean with their naked hand, sundry it in a bright sunny day, and deliver the bean to the nearest market by motorcycle. Moreover, it’s so unbelievable to carry 1-1, 5 quintals coffee bean by motorcycle crossing the mountains and hill in such road condition. The wide of the winding road is just about 1 meter. Therefore, it’s honestly need an expertise to cross these winding and dangerous road. If the rain falling and make the road just like a river with red soil flowing, the bikers usually put additional chain on the back tire to keep the motorcycle running instead of the muddy road.

 

            in Kalianda,  an old bugis man lives told me, it was years ago when he

waiting for ...

waiting for ...

 was 3 months sailing on a traditional bugis ship, leaving his homeland in South Sulawesi to Kalianda, South Lampung. He said there was no compass as a navigation kit to show the right direction, they just trust the stars to guide the ship and believe to the wind blow. Now, he lives with his old wife who works as a traditional massager, while he has retired as a sailor man couple of years before. He and the other bugis people in Kalianda still keep their language, their habit and tradition and of course, their wooden house architecture.

 

            Something that amazes me is; how these transmigrants keep their tradition and culture in this new strange land? Raising their children with norms and values from their ancestors and speaking with the same dialect. Since I met so many Javanese, I speaking with ‘Kromo Javanese language’ and only the older generation who understand and speaking this ‘high’ language. Their children or grand children rarely understand this language except the ‘ngoko’ the lowest degree of Javanese language level.

 

           

pak Gito's old shoes

pak Gito's old shoes

Could it be the way to cope with insecurity? To face new challenges everyday, to adapt with new weather, to know and understand local culture, that’s why they keep their culture, norms and habit. It is kind of establishing their identity, to keep connected with their ancestors, to show who they are, to differ from the other, to strengthen the relativity and so on. Even the ghost story and folklore from their ancestors is still well narrated.

 

            It’s so typically Indonesia, when I was visiting Bandar lampung, the biggest city in Lampung where the people wearing the newest fashion, speaking in Bahasa Indonesia, where the teenagers enjoying burgers in 24 hours McD, sight seeing in mall, and doing so many busy city business things. However, just few kilometres from the Bandar lampung city we’ll meet the rural areas where the humble people living in their ordinary life. They were wearing ordinary clothes, talking in sundanese, Javanese or lampungnese, going to fishing or farming wearing rubber shoes, just like another town in Indonesia.

 

           

o holy preprinted!

o holy preprinted!

And the rest is all about the job we have to accomplish, to do the interviews, editing, cross editing, every single day except if we agree to take a day off or when we move to another villages. Honestly, it’s not as easy as we thought, repeating the same questions, visiting the same villages five times a year. The good point is they already know us, so we do not have to explain who we are, although some of them are still questioning what it is all about. Oh dear,  we have explain the purpose of this research as clear as we could and they still keep asking it every time we come to their house. Honestly, it’s very tiring. At first, I was glad to know that we will visit these villages five times a year; it means I will have the opportunity to meet the people again, to enjoy the landscape, to take good pictures again and again, enjoying the weather and so on. The truth is, boredom is just anywhere to catch me.

 

            Thanks God, we have visiting the virgin waterfall and Way Kambas

o poor tiny elephant!

o poor tiny elephant!

 during our spare time. At least it could break the boredom we have to face everyday. Believe me; riding an elephant is an exciting experience. Most of elephants in Way Kambas have their names, like Aris, Beni, Rahmi and so on. Each elephant has his or her own tamer. Usually elephants recognize who is their tamer by smelling the body odour, voice, clothes or hat. One of the tamer told me that beside elephants in Way Kambas there are so many wild elephants outside the national park. The wild elephants have more sensitivity than those which has been tamed in the national park. As we know, elephants is a very sensitive creature and do have a good memory. They will not forget anything. It is said that one of farmer proudly said that his farm would never be destructed by elephants attack. Then few days later, the elephants attack his farm and left nothing but disorder. It means the people believe if we have any arrogant thought about elephant, somehow the elephants could feel it. I know it seems impossible, but I do believe it is the universe who taking role in this situation.

 

            Picture 285Now, that entire story is turn into memory; the people, road, rice field, the blue Kalianda seashore, white sands, the misty Krakatau, the deep mountain of North Lampung, the coffee bean, and so on. Finally, it’s over, after a year journey back and forth. I do learn a lot from this journey and can’t wait for the next journey to come. But, first let’s take a deep breath and the best thing is I’m home.

 

No one is ever going everywhere until he/she is coming back home…

untukmu

Biar kuselesaikan satu putaran menziarahi matahari,

menaburi relik tulang belulang api dengan bunga lili,

dan mengusap jeram air mata dengan tenunan hari…

Biar kuselesaikan satu bab waktu sebentar lagi,

Lalu nanti,

Tunggu aku di hulu redam sungai,

tempat ikan-ikan mengecipak terumpan kekail..

Untuk mu…

semoga bisa kubawakan serta sepotong reroti

bersalut pelangi, bertabur embun pagi..

Padang Cermin, 17 Februari 2009

kala pipimu delima bersemu..

picture-144baru saja tersadar,
ranum kabut telah menyembunyikan penaku.
dan sambil mengulum senyum diambilnya serta buku harianku.

baru sedegup tersadar,
saat ku terbata-bata mencarinya.
lalu sambil tersipu-sipu
kabut genit itu bilang: ” ku pinjam dulu, kukembalikan nanti kala pipimu delima bersemu.”

yogya,
15 menit sebelum 22 januari 2009

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.