Keinginan itu menyiksa Jendral!!
Mungkin memang manusiawi ya, kalau yang namanya kebutuhan itu berkembang sesuai masanya. kemaren tidak belanja diapers, sekarang belanja diapers + aneka hal tentang bayi. Karena ada Bayi mungil di keluarga kami. Tapi kalau keinginan tersebut berbentuk ‘kebutuhan’ untuk berganti tas, itu perlu sedikit dikritisi.
Betul, tas…
Tas yang bagaimana? Mmhh.. tas yang cocok buat kerja, wangun kalo ditenteng, bahan bisa dari kulit atau rajutan nylon, warna kalem, jangan yang bling-bling dan norak, pengkuh (kuat), tahan lama, dan muat banyak barang. lha emangnya sekarang tidak punya tas yang plang-plung semua bisa masuk dan luwes? ya ada sih… tas kain hadiah Body Shop? lha kenapa ribut pingin tas baru?
Atas nama dunia konsumsi, inilah gilanya pencitraan, saudara…
Saya tau ini sangat sepele. Ibu-ibu dan mbak-mbak di luar sana bisa koleksi sekian tas untuk berbagai acara. Saya hanya tidak ingin terjebak di dunia absurd, sampai-sampai harus berebut tas merk tertentu di suatu pameran, itu lucu tapi serius kan?
Satu minggu ini saya sedang penasaran dengan tas rajutan nylon buatan Godean Sleman yang sudah menembus pasar Amerika dan Eropa. Dan memang bagus dan kuat sih… tapi masih harus membandingkan dengan produk lokal lainnya yang berbahan kulit, siapa tahu ada yang cocok. Lucunya, keinginan ini begitu menguasai. Ndak bayangin deh kalau nanti saatnya tiba untuk datang ke showroomnya, saya akan kalap dan keinginan merembet dari hanya sekedar 1 tas saja. Itulah mengapa keinginan ini harus direm.. bukan berarti tidak boleh beli tas ya… tapi harus bijak me-manage- keinginan ini. Mungkin di saat nanti sudah tak begitu pingin tas lagi, saya justru akan membelinya. Jadi euforianya sudah berkurang. mungkin begitu… hehehehe….
Tas -tas yang saya taksir memang bukan secanggih Hermes atau Prada. Dan saya juga tidak menggilai merk-merk impor tadi. Apalagi bersusahpayah mencari produk KW-nya. Prinsip saya, kalo tidak bisa beli yang asli mending tidak usah beli. Belilah tas unik, genuine dan orisinil. Tas yang nyaman saat panas maupun hujan. Tas yang santai dipakai, bukan yang membuat pemakainya cemas kalau-kalau tas nya lecet. Itu sudah berlebihan menurut saya…
Eniwei, kalau berdasarkan fungsi utama tas, tas kain yang sekarang saya pakai sudah memenuhi fungsi utamanya. Jelek-jelek begitu tas kain saya memang bisa basah kena hujan, tapi kalau kotor tinggal dicuci, dan dipakai lagi. Praktis, no hard feeling… hati tenang dan tidak berdebar-debar kalo ada yang lecet.
Tapi kalau kemudian dihubungkan dengan ’pencitraan dan gaya hidup‘, tentu tak pernah ada yang cukup kan?
Dan keinginan memang menyiksa bukan?
Sudahlah, suatu saat nanti, kalau tas idaman sudah di tangan, semoga saya tidak segila ibu-ibu yang menenteng tas bagai menenteng berlian. Biasa saja… Paling-paling kalau saya mau pulang ke rumah dan turun hujan, saya bungkus tas idaman tadi dengan plastik.. praktis…
No hard feeling..
