Aside

Listening to So Long, Marianne by Leonard Cohen

Nampaknya dunia sedang dipayungi kemurungan. Tentu saja Trump masuk dalam hitungan sebagaimana perang yang menyebabkan pengungsi merangsek ke Eropa dan fenomena sosial yang mengikutinya serta keyakinan buta sekelompok orang tentang apa itu kebenaran yg harus dibela di tanah air saat ini.

Kemurungan kali ini bertambah karena dunia kehilangan a musician, a novelist and a poet; Leonard Cohen. Walau dia sudah siap sebagaimana surat yg ia tulis kepada Marianne Ihlen beberapa saat sebelum Marianne meninggal dunia. Marianne adalah kekasih dan muse untuk lagu-lagu Cohen, termasuk lagu So Long Marianne ini.

“Well Marianne it’s come to this time when we are really so old and our bodies are falling apart and I think I will follow you very soon. Know that I am so close behind you that if you stretch out your hand, I think you can reach mine. And you know that I’ve always loved you for your beauty and your wisdom, but I don’t need to say anything more about that because you know all about that. But now, I just want to wish you a very good journey. Goodbye old friend. Endless love, see you down the road.
— Leonard Cohen

Kurang dari 4 bulan kemudian Cohen menyusul Marianne, His endless love..

Rest in Peace..

Listening to So Long, Marianne by Leonard Cohen

Preview it on Path

Advertisements
Aside

Pat

Perkenalkan, nenek berbaju merah ini bernama Pat. Dia volunteer yg menemani dan mengajar pengungsi perempuan menjahit. Ketika kami datang, ia dengan penuh semangat & ceria menyambut dan mengenalkan kami kepada pengungsi di sana.

Saat itu jam 5 lebih, gerimis kelabu di luar camp, tapi di dalam ruangan suasananya hangat menyenangkan. Pat menunjukkan hasil karya para refugees ini, dari selimut bayi, tas, dan juga boneka yang dibawanya. Boneka itu dibuat untuk hadiah selamat datang buat para bayi pengungsi yang saat ini jumlahnya banyak banget masuk ke Jerman.
Mereka juga membuat baju buat mereka sendiri, karena mereka tidak membawa cukup banyak sandang dalam perjalanan melintasi Turki, Laut Mediterania, Yunani, Macedonia, Serbia, Croatia, Slovenia, Austria dan sampai di Jerman.

Camp di Zähringen ini baru saja diresmikan dengan acara masak-masak hidangan Timur Tengah dan rasa rasa syukur tentu saja. Walaupun mereka masih harus menghadapi wawancara dengan pemerintah untuk menentukan apakah asylum mereka diterima atau tidak. Bila tidak, mereka harus kembali ke negara mereka yang mungkin sudah lantak saat ini.
Perempuan pengungsi ini berasal dari Syria, Iran, Iraq, Afghanistan, dll dan Pemerintah Freiburg membangun bangunan ini sekaligus membayarkan sewa flat mereka.

Pat serta ibu satunya lagi yg keliatan sedikit di belakang itu juga ikut membantu, dengan hati terbuka menerima mereka yang berbeda. So sweet ya.. Saya tersentuh..

View on Path

Aside

Listening to Pure As Snow (Trails of the Winter Storm) by MONO

Sebenernya ada dua karya musik yg saya dengarkan dalam 2 hari terakhir ini, yaitu musiknya Mono dan Amy Winehouse.

Buat saya yg mukul gong aja fals, menikmati musik-musik dr Mono dan Amy itu merupakan proses takjub dan takjub.

Amy Winehouse,
Saya menikmati bagaimana ia tampil serampangan di panggung. Juga cara bernyanyinya yg “aduh niat ndak sih”. Tapi ia begitu jujur, baik lirik, pilihan nada, ketukan, dan cara dia menyeret-nyeret kata sekenanya. Mengulur bait seperti permen karet. Dan musiknya sungguh hidup, tentu karena ia menyarikannya dari apa yg dia resapi dalam hidupnya. Bagaimana ia jatuh bangun mencintai Blake sampai jadi lagu Back to Black. Memakai hiasan rambut norak bertuliskan “Blake” dalam pita di tatanan rambutnya yg sudah menjulang itu. Sungguh dia risk it all dengan semuanya, dia buka, dia pertaruhkan di atas meja. Jika kemudian dia mengalami bulimia dan keracunan alkohol yg merenggut nyawanya tentu saja sangat disayangkan. Dia punya talenta luar biasa, daya serap dan musikalitas yg beyond. Tapi, toh, dia pernah hidup sebagaimana musiknya tetap hidup sampai sekarang.

Bagaimana dengan Mono?
A friend of mine mengenalkan band ini setaun yg lalu. Lagu pertama yg saya dengar adalah Everlasting Light, bersamaan dengan dikenalkan dengan karya Explosions in The Sky yg berjudul Your Hand in Mine. Eh, tapi kita ngomongin Mono aja dulu ya.. Nonton Mono Live (via yutub siiih) itu rasanya.. O mai Gat.. Kok bisa sih mereka menciptakan karya-karya yg begitu dalem? Tanpa lirik, mereka berempat seperti badai yg menghempas-hempas. Seperti gemuruh lautan lalu tiba-tiba teduh seketika. Mereka seperti bisa menyerap esensi pengalaman hidup dalam musik mereka. Saya jadi teringat Norwegian Wood-nya Haruki Murakami, lalu muncul pertanyaan, ada apa sih di kehidupan/peradaban/kebudayaan Jepang sehingga bisa memunculkan karya2 yg dalem, riuh sekaligus sunyi kayak gini?

Sekali lagi, buat saya yang mukul gong aja fals, sungguh saya bersyukur bisa menikmati musik Amy dan Mono dengan khusyuk dan takjub.
Selamat pagi 🙂

Listening to Pure As Snow (Trails of the Winter Storm) by MONO

Preview it on Path

Aside

The blue veiled women

Bukaaan.. Itu bukan pengungsi Suriah, itu wajah melankolia seorang perempuan yg cemas mencari link ke komunitas pengungsi di Freiburg.

Hari ini kami memutuskan pergi ke Museum Natur und Mensch di Augustiner-platz Altstadt naik tram dari Bertoldstraße. Ada pameran foto jepretan pengungsi berjudul “We Cross Borders” yg harus kami datangi demi sekeping informasi. Syukurlah bapak sepuh sekitar 70 thn yg menunggu di meja reseptionis sekaligus menjual tiket itu ramah dan mau membantu. Saya bilang bahwa kami bertiga visiting student di Uni. Freiburg sekaligus riset tentang pengungsi, bisakah kami diberi kontak atau bertemu mereka? Beliau menjawab dengan memberi alamat website FreiburgerBürgerstiftung. Sebelum pergi, kami konfirmasi lagi bahwa ada pertemuan para fotografer pengungsi tgl 27 bulan ini. Kami bisa datang dan bertemu mereka.

Baiklah, ada titik cerah. Semoga ada jalan dari sini. Aamiiin..

Ohya, foto kota dan everyday things saya posting di IG. Enjoy.. 😊

View on Path

Aside

Hari kelima yg “entah” di Freiburg

Hari Jumat
Terhitung hari ke 5 di Freiburg.

Setelah kuliah yg di luar dugaan hari Kamis kemarin dan dua hari exploring Freiburg dan sekitarnya dengan kereta, rasanya saya semakin deg-degan. Kuliah kemarin fix baru diikuti 2 orang mahasiswa selain kami bertiga sebagai visiting students. Artinya jumlah tersebut tidak mencukupi untuk dipasangkan dengan kami untuk melakukan riset tandem. Mbak Ida akan didampingi Alissa karena fokus pada perempuan. Mas Rezki disarankan untuk segera mencari organisasi pengungsi dan saya disarankan untuk fokus pada eksibisi We Cross Borders di Museum Natur und Mensch. Saya sudah email penanggungjawabnya, dan belum ada jawaban. Hiks..

Tapi, at least fokus pertanyaan saya sudah dapet yaitu how refugees experience urban place in Freiburg. Dan bila bisa lewat eksibisi ini maka alhamdulillah sekali. Bila tidak semoga ada jalan lain. Aamiin..

Pagi ini kami akan janjian lagi di stasiun -karena mb Ida dan mas Rez tinggal di desa Ihringen sekitar 20 menit dengan kereta-dan flat saya ada di Eschholzstraße Stühlinger yg hanya 10 menit jalan kaki ke stasiun, maka pas lah semuanya.

Kami belum ada rencana pasti hari ini, mungkin akan ke museum..Semoga semesta menggerakkan dengan kebaikan. Aamiiin

On frame: sarapan pisang dan Apfel pie beli di salah satu backerei kemarin siang

View on Path

Aside

Breisach

Breisach

Belum ada kuliah dan belum turun lapangan hari ini so kami memutuskan untuk melakukan pejalanan dengan kereta. Dan kami tanpa rencana. Jadi kami kumpul di stasiun dan melihat jadwal terdekat kereta yg berangkat. Tujuan terdekat adalah ke Breisach. Jadi ke sanalah kami. Sekitar 25 menit dari Freiburg.

Terus terang saya ndak sempat browsing desa kecil ini. Turun dari kereta langsung saja jalan ke mana kaki menuju. No plan. Sampai kemudian kami tiba di pusat kota dan melihat menara gereja abad pertengahan yg tinggi menjulang. Yes, itu tujuan kami. Kami naik ke atas mengikuti apapun yg bisa menjadi petunjuk. Rasanya seperti Celestine Prophecy 😊 dan tibalah kami di Breisach Münster tepat ketika lonceng jam 11 berdentang.

Papan penjelasan di sudut halaman menjelaskan bahwa gereja ini tempat tersangka penyihir dihukum. Saya pikir ini akan jadi kuliah feminis dan konstruksi tubuh yg panjang. Tapi lupakan dulu lah..

Di seberang terbentang sungai Rhine yg menjadi batas Deutschland dan Frankreich. Sungai bersih dan tenang, angsa-angsa putih berenang di sisi daratan Perancis.

Suhu udara stabil sekitar 12°C. Suasana tenang dan rumah-rumah tampak kosong. Ini lebih sepi daripada Freiburg walau ada beberapa bus wisatawan yg berkunjung ke gereja.

Ohya, sebelum pulang kami masuk ke gereja dan saya memberanikan diri mengambil lilin dengan memasukkan 1€ ke kotak kaleng, menyalakan, dan menaruhnya bersama lilin-lilin yg lain sembari memberikan energi baik dan rasa syukur yang tak terhingga.

Perut sudah lapar so sekitar jam 12 kami kembali ke stasiun dan naik kereta kembali ke Freiburg dan membayangkan box mie yg dimasak perantauan China di pojok stasiun.. 😌
Nampaknya bakal menyenangkan..

View on Path

Aside

Bus Stuttgart – Freiburg yang senyap

Sudah sejam naik flixbus dari Stuttgart. Lumayan anget setelah sebelumnya kedinginan menunggu bus datang. Suhu udara di luar sekitar 15° Celcius. Di dalam bus suhu dikatrol jadi 19°. Nyaman.

Well, perjalanan masih 2 jam lagi dan suasana bus hampir sunyi senyap. Semua penumpang yg kebanyakan mahasiswa ini diam terpekur menekuni keheningan masing-masing. Tidak ada musik dangdut pantura yg memekakkan telinga apalagi jedug2 remixnya. It’s so quiet. Bahkan pasangan yg ngobrol di kanan saya melakukannya dengan pelan. Ndak ada yg buka snack Taro, Chitato apalagi maem tahu bulat.

Udara di luar cerah menyilaukan. Dedaunan sudah kaya warna musim gugur. Jalanan tenang, ramai lancar tanpa klakson. Kanan kiri membentang lanskap lapang dengan rumah2 mungil di kejauhan.

Masih dua jam..
Dan saya sungguh kelaparan.. – at Bondorf

See on Path