bangku

bangku

the deep forest          

  This was what had happened when you were realized that you were falling in love with your friend in your graduation day. As if you were struck by lightning in the bright sunny day, when you no longer denying your feeling. Ouch! But you have to accept that he already has a girlfriend. Yup, too early seen unknown and known too late.. Just like Shakespeare said in Romeo and Juliet.

            And then, couple months later I wrote my first short story, ‘Bangku’ means a bench, the idea was derived from my imagination that my love was just as simple and humble as just waiting him to sit in the dark-brown woody bench and talk about anything in life. Hohoho but life is not as simple as that, isn’t it? Yet, my platonic-naïve love have stand almost 2 years until I realized that I have to release my feeling and began a new direction in life. Yup, he is my good friend until now and you can still read my short story after all. Don’t forget to write your comment. Thank you..      

 

Bangku

Sayup-sayup suara langkah kaki terdengar di balik kabut. Kinanthi pun mengalihkan pandangannya dari buku yang ditekuninya. Matanya terpaku pada setapak berbatu-batu yang berujung pada hutan. Perlahan, kabut memudar menjadi lesap disibak angin entah ke mana. Tiba-tiba saja sosok pria mulai nampak, berjalan dengan pelan dan mantap, masih menyimpan kedua tangan dalam saku jaketnya. Seketika itu juga Kinanthi tersenyum lemah, menyambut kedatangan sosok itu, ‘Akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggumu di bangku ini sepanjang waktu.’

Gandaru, sang laki-laki dari balik kabut itu tersenyum simpul. Masih berdiri di pinggir setapak, ia membalas sambutan Kinanthi dengan menatap lembut. ‘Benarkah begitu? Aku pun sudah mencarimu selama ini.’ Sahut Gandaru dengan ringan dan tersenyum geli sambil mengedikkan kedua pundaknya.

Gadis yang masih duduk di bangku itu terhenyak, tak menduga jawaban Gandaru akan seperti itu. Ditutuplah bukunya dan diletakkan ke bangku. ‘Kenapa harus begitu lama? Apa susahnya menemukan bangku ini? Toh kau melewatinya setiap hari. Aku selalu di sini.’ Dibiarkannya rambut yang diikat seadanya terurai dan tergerai oleh desir angin.

‘Ya, setiap hari aku memang lewat. Tapi wajahmu selalu tertunduk sendu. Tercengkeram masa lalu.’ Jawab Gandaru sambil memandang lepas danau yang begitu hening di tengah hutan. Matanya menerawang, meninggalkan beribu tanya pada Kinanthi yang beranjak mendekat di belakangnya. ‘Lalu kenapa kamu tidak duduk saja dan menyapaku?’ sergah gadis itu tak sabar.

Kembali gurat senyum terukir di wajah Gandaru, sambil berbalik menghadap Kinanthi. ‘Tidak semudah itu sayangku. Pun kau pasti tidak akan memperhatikanku. Terlalu banyak beban hatimu yang memburamkan matamu.’

Jawaban Gandaru kembali membuat Kinanthi terpaku, menatap langkah Gandaru menuju ke bangku. Dipandangnya laki-laki itu lekat-lekat. Laki-laki yang sudah sekian lama dirindukannya, yang sudah sekian lama dikenalnya, harum tubuhnya, langkah kakinya, semua itu sudah terlalu menjadi biasa bagi Kinanthi. Hingga ia terlalu buta untuk menyadarinya. ‘Begitukah?’ gumam Kinanthi, masih berdiri dihembus angin sore yang menggelitik dedaunan.

Kali ini Gandaru lah yang duduk di bangku kayu di pinggir danau. Meletakkan kedua siku di sandaran bangku dan menatap Kinanthi yang berdiri membisu. Sambil mengelengkan kepala, dia berkata lemah ‘Sampai kau bisa mengurai sendiri, tak ada gunanya aku menghampirimu.’

Mendengar lirih hati gandaru, Kinanthi merasa teracuhkan, dengan nada yang sedikit tinggi, dia menukas ‘Tapi setidaknya kau bisa membantuku memecah buntu!’

Dengan tenang, Gandaru mendongakkan kepala menatap langit dengan kedua telapak tangan yang disilangkan sebagai sandaran. Nampak langit senja lembayung kebiruan, burung-burung beterbangan ingin cepat pulang ke sarang. ‘Tidak, tidak, itu tak baik untukmu. Jangan-jangan kau justru tak akan pernah belajar.’

‘Oh ya…’ jawab lemah Kinanthi sambil menghela nafas. Udara sore itu begitu lengang sekaligus begitu kaya akan sejuta pertanyaan. Sesekali kicau burung terlintas jauh di dalam hutan. Atau kecipak ikan melentingkan permukaan danau dengan lingkaran-lingkaran yang berkejaran. Gandaru melepaskan tatapannya dari langit dan memandang Kinanthi yang masih saja berdiri. ‘Ya, ya, memang harus begitu…’

Dipandangnya gadis yang sedang bertarung melawan gundah. Sudah lama dia mengenal Kinanthi, sudah sangat terlalu lama, sampai kadang dia menganggap Kinanthi bagian dari hutan dan danau yang dilewati dalam setiap perjalanannya. Gadis yang lebih sering memandang dengan mata bulat sendu. Yang menyimpan seribu rahasia yang begitu lama dipendam. Dia tau ada cercahan luka yang menyesap di mata kinanthi. Dia sangat tau.

into the seaKembali dia menatap ke danau bersamaan dengan bayangan senja yang mulai turun. Berkas-berkas lembayung tercermin di permukaan danau, begerak-gerak seirama alunan air. Ada satu pertanyaan yang juga mengganjal benak Gandaru. Dia harus mengungkapkannya.

Dipangilah Kinanthi yang masih asik menipak rumput basah dengan kaki telanjangnya. ‘Tapi Kinanthi, ketika kau sudah meredam dan menawar lukamu, kenapa kau tidak mengundangku duduk di bangku ini?’ mendengar pertanyaan Gandaru, Kinanthi tersenyum sambil melangkah ke bangku dan duduk di sisi lelaki itu. Dihelanya tangan Gandaru ke telapaknya, ‘Mmh…kau tau, beberapa saat lalu ku melihatmu berlalu, sedang dimabuk cinta yang bukan cintaku, mana kuasaku untuk menahan langkahmu?’

Mendengar bisikan Kinanthi, serta merta diremasnya dengan lembut jemari Kinanthi, dikecupnya dengan pelan. ‘Itu… itu karena ku letih menunggumu, mengangkat muka dan menangkup sapaku.’ Lirih Gandaru. Tiba-tiba saja Kinanthi tertawa renyah, memandang lelaki di sampingnya dan membalas ‘Pantas saja, kupikir kau tak akan pernah datang…’

Sore itu jadi lebih hangat dari ribuan sore yang pernah mereka lalui. Dalam diam, mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Sekawanan angsa putih menyeberanggi danau. Bagai membelah cermin hijau dengan tubuh putih seindah awan. Ada sampan tertambat di dermaga kayu di sisi barat danau, menunggu pengelana yang akan mengayuh menyeberangi pagi dan petang.

Gandaru memecah keheningan itu dengan bertanya ‘Mengapa kau tak beranjak pergi dari bangku ini? Bukankah banyak sampan yang siap berlayar?’ ditunjuknya sampan itu. ‘Ah kau ini,’ tukas Kinanthi sedikit jengkel. ‘Bangku ini sudah begitu setia menanti pertemuan kita, aku tak mau mengecewakannya.’ Gelak Kinanthi.

Gandaru beranjak dari bangku dan berdiri di belakang Kinanthi. Tangannya memegang sandaran bangku. ‘Berarti sudah selesai pula tugas bangku ini menemanimu.’ Ungkap Gandaru.

‘Ya, aku tau, harus pergi kah kita dari sini?’ Tanya Kinanthi dengan sedikit sedih. ‘Aku sudah terlanjur sayang dengan bangku ini, menemaniku menunggumu singgah dan menepis rindu.’

Dengan lembut dipeluknya Kinanthi dari belakang. ‘Tentu sayangku,’ bisik lirih Gandaru di telinga Kinanthi. ‘Tugas bangku ini sudah selesai untuk kau dan aku. Masih banyak hati yang merindu, menanti ditangkupkan di sini.’ Kinanthi mengangguk dan berdesah, ‘Ah, betapa mulianya bangku ini. Menjadi saksi semua rentipan rindu hati.’

Gandaru tersenyum hangat, menegakkan tubuhnya dan berjalan menuju tepi danau. Langit biru sudah memudar menjadi lembayung di barat. Hutan dan danau semakin senyap. Tinggal kepak-kepak sayap burung yang takut kemalaman menuju buaian. Diulurkan tangannya ke arah Kinanthi. ‘Ayo, sampan itu sudah menanti, kau tak mau ketinggalan kan?’ seru Gandaru. ‘Gayut tanganku sekarang juga. Aku tak mau senja ini berlalu lagi. Tanpa kau di sisi.’

Senja mulai menipis, sampan itu akhirnya dikayuh dengan pelan di antara guguran bunga dan dedaunan di permukaan danau. Tinggal bangku itu sendirian, menunggu hati yang saling merindu ditangkupkan setelah sekian lama larut dalam ribuan kelana bulan.

 

Nurani Fajri Nawangsih

13 september 2006

11 an malam…

diselaraskan lagi, 14 sept 06

9.30 an malam…

dirampungkan

17 september 2006, siang…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s