Dan saya sedikit tersesat di dalamnya..

Dan saya sedikit tersesat di dalamnya..

Malam hari setelah saya meng-update blog ini, duduk di barisan depan beralaskan tikar menikmati lagu Old Devil Moon-nya Jamie Cullum dinyanyikan dengan rancak dalam acara “Jazz Mben Senen” di Bentara Budaya itu saya tersenyum-senyum sendiri. Lebih tepatnya setengah geli ketika teringat tulisan saya tentang sepatu tali kulit baru berwarna merah dan bersol datar itu. Faktanya sepatu sandal itu memang saya pakai dan tampak manis sekali dipadukan dengan kain batik tulis Pancur-Rembang dengan kombinasi warna cokelat-ungu-kuning dan merah tentu saja.

Timbul pertanyaan begini: kenapa saya harus membutuhkan kejutan berupa sepatu untuk memplokamirkan bahwa saya melanjutkan hidup dan punya semangat baru. Kenapa saya membutuhkan entitas di luar diri saya untuk menambah rasa percaya diri saya?

Jujur saja, peran sepatu yang nyaman dipakai di kaki kita, dengan model terbaru, warna yang begitu menarik, dan cocok dengan kain batik yang saya kenakan betul-betul seolah-olah menambah derajat percaya diri. Lalu apa salahnya dengan itu semua? Kenapa tidak?

Jawaban praktis memang begitu. Kenapa tidak? Toh saya melakukannya dengan sadar dan bahagia.

Kemudian ingatan merembet ke barang-barang saya beberapa tahun ini yang sepertinya mencerminkan selera saya. Dengan bangga saya meneteng tas kain The body Shop berwarna krem salem dengan tulisan melingkar tentang prinsip-prinsip kemanusiaan perusahaan kosmetik ini yang sebenarnya adalah bahasa lain dari iklan. Muklas dan tika pernah dengan usilnya mengusik saya dengan pernyataan : “Mau-maunya mengiklankan body shop, harusnya mereka bayar kamu dong mbak.” Saya sih senyam-senyum sendiri. Kenapa ya? Apakah kalau memakai kosmetik ini saya merasa percaya diri? Ya, jawab saya. Apakah saya merasa nyaman? Ya, tentu saja. Apakah saya merasa berkelas dan jauh berbeda dengan kosmetik-kosmetik murahan yang dipajang di hipermarket? Ya, saya amini semua itu.

Ini seperti menunjukkan pilihan kita bahwa saya memakai kosmetik yang mempunyai asas-asas kemanusiaan terpuji, -against animal testing- misalnya, dan sederet prinsip-prinsip yang tidak dimiliki perusahaan lain. Walaupun sebenarnya bisa jadi memang saya begitu termakan oleh slogan-slogan itu. Saya termakan rayuan iklan. Saya termakan simulakra.

Awalnya dulu saya sudah berjanji untuk hanya mengonsumsi Body Mist seri ‘Oceanus’ saja. Wanginya mengingatkan saya akan perjalanan 4 hari ke Bali 2007 lalu. Entah mengapa ketika mencium aroma lautnya saya begitu nyaman dan tersihir. Tetapi yang terjadi kemudian, saya membeli dengan patuh dan kontinyu lip balm, lip gloss, roll on, body lotion, shower gel, compact powder, body scrub, facial mask, facial wash, moisturizer, night cream dan berbotol-botol pengharum tubuh dengan aroma yang berbeda. Bahkan saya sudah mendapatkan gift berupa 3 buah pin karena mengembalikan wadah-wadah kosong ke gerainya untuk didaur ulang. (tiga wadah bekas berhak mendapat 1 pin bertuliskan -lagi-lagi- slogan yang diusung).

Jadi, bukankah ini bentuk pertanggungjawaban perusahaan untuk setia pada komitmen memerangi pemanasan global? Dan saya turut mendukungnya bukan?

Ada yang salah dengan semua ini?

Lalu ingatan saya merembet ke barang-barang lain yang saya gandrungi. Pernah saya membeli sepatu Kickers dan Gosh dalam waktu 2 minggu tanpa perlu berpikir dua kali. Alasannya simpel saja, saya belum punya sepatu warna itu atau model yang seperti itu. Padahal sepatu-sepatu lain yang teronggok di rak masih bisa dipakai.

Jauh-jauh hari dulu, tipe alas kaki saya adalah –all occasion- alias alas kaki itu harus nyaman dan bisa dipakai ke semua acara dan tempat. Tak ada istilah untuk mencocokkan dengan ke mana saya akan pergi, pakaian apa yang dipakai, warna maupun semua pertimbangan yang menyertai. Dan saya baru membeli yang baru ketika alas kaki tersebut rusak.

Nampaknya semuanya berubah bukan?

Kenapa saya setia dengan merek-merek tertentu untuk baju yang saya pakai? Kenapa saya gandrung untuk minum a grande mug of dark bitter hot Americano coffee di Starbuck di saat saya ingin merayakan kebahagiaan maupun kesedihan? Kenapa saya harus makan di warung vegetarian yang menjanjikan masakannya bebas produk hewani dan tidak memakai bumbu penyedap?

Kenapa kita memilih sesuatu?

Baiklah, ini seperti permainan identitas diri. Atau mungkin ini pilihan dengan segala resikonya yang saya ambil dengan sadar. Ya, bisa jadi. Tapi mari kita kembali ke pertanyaan utama di awal tadi.

Kenapa saya membutuhkan entitas di luar diri saya untuk menunjukkan siapa saya?

Harusnya, saya adalah pribadi yang tidak tergantung dengan embel-embel apapun di luar diri saya. Harusnya saya merasa cukup dengan diri saya dan berbahagia.

Idealnya memang begitu.

Apakah ini adalah bentuk mengisi kekosongan jauh di dalam jiwa saya? -Membeli dua merek sepatu mahal untuk ukuran kantong saya dalam waktu kurang dari dua minggu menunjukkan betapa impulsive dan emosionalnya saya, bukan?-

Baiklah, mungkin begini, dunia dimana kita hidup ini penuh sesak dengan simulakra. Dan saya sedikit tersesat di dalamnya. Kalau boleh saya membela, sebenarnya tanpa semua barang-barang itu saya tetap hidup dan bernafas kok. Hanya kadang-kadang mau-tidak mau saya membutuhkan dan menikmati ini semua.

Idealnya kita tak membutuhkan semua simulakra konsumtivisme tadi. Idealnya kita tidak membutuhkan barang apapun di luar diri untuk menunjukkan siapa kita. Kita sudah utuh, seutuh-utuhnya kita.

Saya tersenyum-senyum sendiri memikirkan ini semua, sembari mengetuk-ngetukkan kaki menikmati irama jazz. Ah, ya, jazz, musik jazz? Kenapa saya menyukai jazz?

Haha, nampaknya benak saya penuh pertanyaan malam itu..

Kotagede, the last day of March 2010

Advertisements

6 thoughts on “Dan saya sedikit tersesat di dalamnya..

  1. hm…bayi, untuk belajar berjalan tegak perlu pegangan, bergayut di kaki orang lain, pakai walker, dll…tapi kalau sudah bisa jalan semua alat penopang itu tidak dibutuhkannya lagi.
    prinsipnya mungkin sama ketika seseorang ingin menjadi kuat dalam keadaan, yang saat itu belum mengijinkannya kuat, perlu berpegang pada ‘sesuatu’. asal kemudian prinsipnya mengingat bahwa yang dari luar dirinya adalah ‘alat bantu dan kesementaraan’, tidak menempelkan menjadi identitas dirinya, kupikir semua sah :)..

    dan….ndak semua kosmetik di hipermarket itu murahan Rannn….aku nganggo tur yo atusan ewu kok ;p

    eniwei, great work! aku suka membaca tulisan2mu. ayo tulis2 teruuuss…. lop

  2. Ringkasnya, semacam Body Shop itu, gagah2an doang
    dengan muatan kesadaran etik-globalnya. Ujung2nya
    sebenarnya kapital. Jadi mengemas konsumerisme
    dalam setumpuk jargon agar nampak lebih baik, hahaha…

    Namun aku juga sepertimu. Meski sadar tetep aja
    kelayapan dalam rimba konsumerisme.

    E eh, tempo hari ada EDT baru-nya Body Shop, lupa
    judulnya, Jepang2an gitu deh maunya…

    Kau lebih suka Oceanus daripada White Musk ya?

    hehehehe

  3. @silvi: yg bikin kosmetik d hipermarket terlihat murahan itu karena cara mengecernya/menjualnya. Tdk eklusif walo harganya mahal. Ini bukan sekedar nilai uangnya, tp lbh intrinsik dgn persepsi kita.
    @ may: hehe, yg japan2 itu emang wangi bgt kok, tp entah cocok ndak kalo dipakai. Ak jg pake whitemusk, gara2 oceanus ndak keluar lg. Dan msh kusisakan dikit perfume oil & body shower oceanus buat memorabilia. Hahaha, nampaknya ini bukan sedikit tersesat lg namanya, i’m lost!

  4. Accidentally nemu blognya kakak kelasq jaman sma, senior di pecinta alam wkwkwk (brasa tua banget kalo omongin sma T.T ). Iya stuju ama mb silvi &mb anin (yg sepertinya namanya mirip ama kakak2 kelasq sma jg), memang bagus tulisan mb rani. Khas org antro kali ya, pinter nulis, reminds me of prof jacob and prof etty. Semoga aq bisa menulis sebagus mb rani suatu saat nanti. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s