Ketika kami membacanya dengan sudut pandang yang berbeda..

Ketika kami membacanya dengan sudut pandang yang berbeda..

Hampir setahun ini menikah, akhirnya saya berhasil memaksa Mas Wawan -suami saya- untuk membaca novel sampai tuntas dan membahasnya. Dulu proyek ini tidak terlalu berhasil ketika saya menyodorkan ‘The Virgin Blue’ nya Tracy Chevalier. Kenapa ‘The Virgin Blue’? Soalnya novel ini begitu perempuan, romantis, ada bumbu sejarah sekaligus intuitif. Saya penasaran dengan sudut pandang Mas Wawan. Bagaimana dia menelaah karakter, bagaimana dia beradaptasi membaca novel non-Indonesia dengan gaya penulisan yang berbeda, bagaimana ia memaknainya. Tapi nampaknya novel itu tak tuntas terbaca atau kami tak sempat membahasnya.

Dan sekarang, novel yang berhasil terdedah itu adalah ‘Manjali dan Cakrabirawa’ nya Ayu Utami. Novel yang dengan girang saya beli dan lahap dalam waktu kurang dari 24 jam. Menuntaskan rindu saya pada Yuda, Parang Jati dan Marja yang sudah saya kenali dari novel induknya ‘Bilangan Fu’. Novel tebal yang saya beli 2 tahun yang lalu untuk menemani perjalanan saya ke Lampung. Memang harus selalu ada buku untuk dibaca, rasanya sepi tanpa buku yang menemani. Begitu juga ‘Manjali dan Cakrabirawa’ yang menemani saya jalan-jalan di Jakarta.

Saat kami duduk di peron menanti kereta di Stasiun Gambir –dia dari Bogor naik Pakuan Ekspres sedang saya naik kopaja dari Semanggi, kami memang sengaja mengepaskan jadwal pulang ke jogja- saya sodorkan novel itu dan membujuk untuk membacanya. Dan berhasil. Walaupun butuh waktu berhari-hari untuk menuntaskannya di sela-sela persiapan ke Solo. Alhasil, dari perbincangan via telepon, mas wawan berpendapat:

‘Alur novel ini melompat-lompat tetapi  menarik. Akan tetapi ada unsur-unsur yang sepertinya tidak terselesaikan. Seperti penggarapan dongeng Airlangga dan Calwanarang yang mengundang misteri di awal cerita tetapi tidak terbahas di akhir cerita. Akhir cerita ini juga membuat kecewa karena berujung pada misteri masa lalu Ibu Murni yang mantan Gerwani dan suaminya mantan Cakrabirawa. Kok ending nya lari ke sini? Apa hubungannya dengan Airlangga dan Calwanarang? Sedangkan premis-premis sebelumnya memperkuat gaung bahwa ada kaitannya dengan kisah Calwanarang itu. Penjelasan tentang hubungan darah mens Marja ketika menginap di halaman Candi Calwanarang dengan tudingan orang yang kesurupan tentang penodaan candi tidak memuaskan juga. Kenapa tidak diceritakan dengan gamblang bagaimana kisah cinta Marja Manjali, Sandi Yuda dan Parang Jati selanjutnya? Kontribusi aneh Haji Samadiman yang mengirim surat kepada orangtua Marja agar menamainya Manjali juga terasa janggal. Intinya, endingnya tidak sesuai yang diharapkan. Khusus untuk Parang Jati dan Marja, atas nama persahabatan Sandi Yuda dan Parang Jati, hubungan Parang Jati-Marja memang sepantasnya mentok walaupun kasih mereka sampai. Dan pepatah lama memang bilang, jangan titipkan kekasihmu pada sahabatmu. Berbahaya dan beresiko.’

Hmmm… lalu saya jawab begini, akhir cerita tiga manusia itu sudah ada di ‘Bilangan Fu’, dan novel ini adalah sempalan ‘bab’ yang tak terceritakan di ‘Bilangan Fu. Maka akhir cerita cinta segitiga ini memang mengambang.

Tapi kata Mas Wawan yang belum pernah membaca ‘Bilangan Fu’, dia tidak peduli dengan ‘Bilangan Fu’, dia membaca ‘Manjali dan Cakrabirawa’ secara tunggal, dan novel ini begitu datar di akhir cerita. Sedang saya yang sudah membaca ‘Bilangan Fu’, memaklumi akhir yang mengambang itu.

Untuk beberapa hal memang kisah Airlangga dan Calwanarang tidak tuntas di akhir cerita, baiklah saya amini. Walaupun saya menganggap kisah Airlangga dan Calwanarang beserta candi yang sedang digali ini adalah pengantar untuk cerita Gestapu berikutnya. Nampaknya memang unsur sentilan tentang prahara itu sengaja dikoyak untuk menunjukkan posisi pilihan Ayu mengenai tragedi berdarah itu. Sebagaimana Seno Gumira Ajidarma juga menjadikannya latar belakang cerita itu bersama Alena.

Untuk ketakutan Marja tentang darah mens nya yang menodai kesucian candi sudah dijelaskan Parang Jati, bahwa ketakutan itu ada dalam pikirannya yang diolah dengan logika yang timpang. Sedangkan ada banyak kemungkinan sebab dari tudingan penodaan candi itu yang gagal dilihat Marja. Saya pikir Parang Jati sudah cukup jelas menjawabnya.

Nama Manjali dari Haji Samadiman memang sengaja diangkat di akhir cerita untuk menunjukkan bahwa teka-teki ini belum berakhir. Mungkin itulah bedanya teka-teki dan misteri.

Lalu untuk Marja dan Parang Jati? Ganti saya yang kecewa dan geram. Kenapa gairah harus sublim dalam narasi? Kenapa mereka tidak bercinta? Marja merasa nyaman dan menyatu secara lembut dengan Parang Jati, ini sesuatu yang sakral bagi saya, daripada gairah yang banal dan liar bersama Sandi Yuda. Tetapi hubungan Marja dan Parang Jati mentok di persahabatan.

“Kasihan Parang Jati kalau mendapatkan Marja, dia sudah milik sahabatnya. Dia bekasnya Yuda. Parang Jati lebih pantas mendapatkan yang lebih baik.” Kata Mas Wawan.

“Lho, kalo cinta kan tidak melihat dia bekas atau tidak, kok ukurannya jadi begitu?” protes saya. Kalau Mas Wawan jadi Parang Jati apa yang akan dilakukan?

“Menjadikan Marja sebagai sahabat saja, bukan kekasih, atas nama persahabatan antar lelaki, Sandi Yuda dan Parang Jati. Dan memang sudah seharusnya begitu. Toh rasa itu sampai dengan cara dan kapasitasnya sendiri.”

Hmmm… mungkin begitu ya, ada manis yang perih, ada kesempatan dan pilihan.

Jadi, ketika Mas Wawan membaca dengan berjarak dan menempatkan karakter sebagai lakon dalam lelakon, saya justru tenggelam dalam cerita. Saya menempatkan gundahnya Marja sebagai gundahnya saya, seandainya memang ada seseorang bernama Parang Jati itu. Lalu ketika novel tuntas terbaca, gegarnya masih merajai pikiran saya, mempertanyakannya dan seolah-olah mencoba berada di dunia Marja dan Parang Jati.

Itulah kenapa sehari setelah membaca saya bergegas menuju Museum Gajah dengan berjalan kaki dari Stasiun Gambir.

-Seperti perjalanan Marja dan Parang Jati di akhir cerita; dan membayangkan di mana mereka berdua berpisah dengan Yuda yang naik bis dari Stasiun Gambir menuju RSPAD untuk menjenguk Musa Wanara.-

Cerita ini melekat di benak saya dan saya mencari jejak momentum di sudut-sudutnya. Seperti menziarahi sejarah.

Di Museum Gajah, saya sisiri arca demi arca lalu tersenyum lega ketika arca Syiwa Bhairawa di depan mata, besar menjulang. Dan mematut-menekuni makna di baliknya. Saat sudah di Jogja dengan segera saya membaca Bilangan Fu lagi secara acak, seperti ingin mengenal Parang Jati jauh lebih dalam.

Jadi, ketika mas wawan membaca novel ini sebagaimana aktor membaca naskah teater dan mencari ketidaksinambungan yang mengganggu jalan cerita dan mengkritisinya. Saya justru sedikit tidak peduli ketika alur cerita membelok ke arah yang berbeda, malah tenggelam dan seolah-olah berada di sana. -Saya dan Parang jati dalam perjalanan meniti candi-candi di Jawa timur.- Ketika Mas Wawan mengkritisi hubungan cinta segitiga dengan alasan yang masuk akal, saya malah menyayangkannya. Kenapa Marja dan Parang Jati tak bersatu?

Ketika kami membacanya dengan sudut pandang yang berbeda. Ketika Mas Wawan mengkritisi dan saya justru jatuh cinta pada Parang Jati..

 

 

p.s.: Maturnuwun untuk Vina ‘kuky’ Noor yang menemani jalan kaki di siang yang terik menuju Museum Gajah dan Mbak Mita Sari Apituley yang menjawab pertanyaan saya.

Advertisements

One thought on “Ketika kami membacanya dengan sudut pandang yang berbeda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s