Being fat and become ‘others’!

Being fat and become ‘others’!

Image

 

Sebenarnya teman-teman, dasar pemikiran apakah yang mengesahkan kita untuk bisa mengolok-olok orang lain berdasarkan bentuk fisiknya? 

Saya benar-benar bertanya.

Atau mungkin teman-teman punya pengalaman lain ‘menjadi bahan olok-olokan’. Baik di keluarga, sekolah, tempat kerja, atau di manapun. dan olok-olokan itu bisa mengenai apapun, bisa fisik, background keluarga, atau ‘penanda’ apapun yang melekat pada kita dan dianggap sebagai kejanggalan oleh orang lain. 

Kalau kita diolok-olok, apakah kita menjadi termasuk ‘liyan’ bagi orang tersebut? berbeda? sehingga pantas untuk diolok-olok? 

Contohnya seperti ini: ketika Si A yang bertubuh dengan ukuran yang lebih besar dari standar ukurannya si B, maka apakah A kemudian menjadi pantas untuk diolok-olok oleh B? Dijadikan bahan ejekan di tengah keluarga? 

Seberapa banyak teman-teman yang mengalami ini? lalu apa yang dilakukan? diam? marah? tidak terima?

Tentu saja kalau saya marah dan tidak terima. Sesempurna apakah fisik orang yang mengolok-olok itu sehingga ia dengan seenaknya merasa pantas untuk menjadikan “tubuh” orang lain untuk dijadikan bahan pembicaraan? atau ini caranya untuk bercanda saja?

Wah hebat sekali ya.. bercanda dengan menjadikan “tubuh” orang lain menjadi sasaran? 

Mosok ya, ketika ejekan itu datang saya harus menjelaskan bahwa tubuh perempuan ini sudah begitu dilantakkan oleh konstruksi budaya yang begitu patriarki. Budaya yang menempatkan tubuh perempuan hanya sebagai obyek. Perempuan hanya setengah manusia yang tidak punya hak untuk mengkritisi keberadaan dirinya? Haruskan saya menjelaskan kepada orang yang mengejek tersebut bahwa semua ini adalah mitos kecantikan yang dibuat-dibentuk-yang tidak datang dengan sendirinya? Tidakkah berpikir berapa banyak perempuan yang tersiksa dan tidak mencintai tubuhnya sendiri karena tuntutan dunia akan tubuh yang ideal? Berapa banyak yang memuntahkan makanan yang sudah ditelannya demi berat badan yang sesuai standar? Standar siapa? Atas dasar apa semua ini begitu menghantui perempuan-perempuan di luar sana? Kenapa standar berat badan tubuh mereka harus ditentukan oleh orang lain? Dunia gila macam apakah ini? 

Kegilaan mitos kecantikan yang sudah akut ini mau dibawa kemana? Okee.. ini tentang industri, industri kosmetik, fashion, obat pelangsing, pemutih badan yang ujung-ujungnya adalah uang-konsumerisme. dan saya tidak mau mengikuti semua tetek bengek tak berotak seperti itu. 

Mosok ya saya harus berbuih-buih menjelaskan ini semua? 

Hahaha, atau memang harus begitu ya… 

Atau saya harus maklum bahwa itu hanya becandaan belaka.

“Maklumi saja, dia kalau ngomong memang ngawur”.

Luar biasa… enak sekali ya, orang yang ngomongnya ngawur itu minta dimaklumi… enak sekali hidupnya… Terus kalau itu melukai dan membikin trauma bagaimana? 

# Salah Gue? Salah temen-temen Gue?  (Huahahahaha… ini salah ketik)

Tidak, maksud saya, mungkin ini semua salah saya. salah saya yang tidak bisa bercanda. Mental saya yang tidak kuat dengan cara bercandaan fisik itu. Lha kalau ini dasar pemikirannya, mau dikritisi dari sudut pandang dan jarak pandang manapun ya tetep enak jadi orang yang mengolok-olok dong? 

Hak kita di mana? 

Oke, mari kita pikirkan background keluarga. Bagaimana seseorang itu dibesarkan, dengan siapa dan di mana ia tumbuh besar kan menentukan bagaimana ia ke depannya. Kalau begitu salah saya dong dibesarkan di tengah keluarga yang tanpa celaan dan olok-olokan. Di mana semua dihargai, tidak dengan puji-pujian yang tidak perlu tapi penghargaan yang sepantasnya. Artinya, mungkin dengan begitu mental saya tidak kuat bila berhadapan dengan seseorang yang lain cara model bercandanya? 

Atau ada alternatif pemikiran lain? 

Karena ini sungguh membuat saya trauma. Adakah teman-teman lain yang punya pengalaman yang hampir sama? 

Oh, tentu ini bukan masalah besar yang menyangkut keseimbangan dunia, tapi kalau dibiarkan dan permintaan maaf dianggap cukup tanpa kesadaran pemikiran yang berubah, lalu apa gunanya?  Sia-sia dong kita dibekali kemampuan untuk berpikir dan mengkritisi? 

Advertisements

10 thoughts on “Being fat and become ‘others’!

  1. Pernah saya mengalami hal seperti mb ketika di masa SD.
    dimana dikala itu saya memang dalam keadaan seperti itu, main bola paling lambat,lomba lari paling lelet, joging jarak jauh ngk kuat lama mengingat saya termask punya penyakit asma.
    waktu itu bnyak dari kawan kawan mengejek sebagai sosok yang lemah dan lelet identik dengan keadaan tubuh. Hingga akhirnya saat SD pun di juluki dengan nama “Dantung” entah apa arti dari kata tersebut tapi bisa ada gambaran bahwa Dantung itu sesuatu yang besar dan pemalas. hahaha *kesimpulan dari saya sendiri sih. haha. sekian aja di jaman SD tkt ngelantur.
    Jelang bertambahnya umur dan seiring meningkatnya jenjang pendidikan mulailah masuk dalam lingkup SMA(Sekolah Masa Ababil) awkawkwak. Seiring bertambah dewasa bertambah juga segi sesivitas seseorang. Bukan masalah bentuk tubuh yang gendut disini yang saya bahas melainkan bentuk “bibir” yang notabene saya termasuk orang yang memiliki bibir tebal dan suka “melongo” kalo dalam keadaan ngak sadar. Hahahaha lucu sih kalo di bayangin sendiri tapi???? yaaa gila aja kalo itu di gunakan sebagai bercandaan yang berelebihan sampai sampai sebagian temen SMA memanggil saya “Bir. Bibir” haha sama kyak Justin Bibir kali ya hahahaha. Ya dalam posisi saya bercanda saya memaklumi candaan tersebut tapi ketika tidak dalam posisi bercanda saya terkadang berfikir apakah suatu kekurangan saya ini harus di umbar umbar demi sebuah ejekan yang terkadang melukai batin saya namun membuat orang lain bahagia?. Teori keihklasan dan bersyukur yang saya gunakan untuk meredam rasa emosi saya ketika bercandaan itu melampui batas. Ikhlas karena itu semua adalah yang di berikan Allah SWT kpd saya yang lebih menonjol dari pada yang lain karena notabene orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Bersyukur karena justru kekurangan saya ini membuat sebuah kelebihan yang membuat orang menjadi lebih mudah ingat kepada kita.(hal yang negatif selalu lebih melekat daripada hal yang positif)
    Masalah mereka mw menjelek2kan atau menghina kita tentang sebuah bentuk tubuh, memang ketika prilaku mereka yang seperti itu kalau di maklumi itu terlalu fantastis untuk mereka karena itu menyangkut hinaan kepada diri kita.
    Menurut ku kembali ke diri masing” anggaplah mereka mengagumi bentuk keurangn kita(dilihat dari intens mereka membicarakan kekurangan kita). Sebenernya MEREKA ITU IRI kepada kita,
    Pertama, kita bisa ikhlas terhadap apa yang telah di berikan oleh Allah tentang semua bentuk yang ada di tubuhkita ini(tanpa merubah bentuk denan jalur yang justru menyiksa tubuh kita) nah berarti mereka iri karena mungkin mereka memiliki kekurangan dalam diri mereka namun karena ingin menutupinya maka mereka akan memberi estmasi kepada dirinya bahwa ada yang lebih buruk dari mereka(nah berarti mereka kurang bisa menerima kondisi) degan cara mengolok” kekurangan dari orang lain.
    Kedua. Dalam hati mereka juga merasa aneh dan bertanya tanya kenapa kita bisa menerima kondisi kita dengan wajar wajar saja, Sedangkan mungkin jika ketika mereka dalam posisi kita mereka tidak akan menerima kondisi yang ada. Disni yang namanya setan mulai mengompori yang namanya teori menjatuhkan idividu di mata orang bnyak. Hasilnya mereka mempunyai rencana untuk membuat kita yang nyaman dengan kondisi kita menjadi seolah olah kita merasa bahwa itu sebgai BEBAN hidup. Nah kalo sampai kita merasa seperti beban al hasil kita akan kalah dengan mereka.
    Menurutku sudah lah biarkan mereka berbicara se enaknya dan biarkan mereka terlalu pusing dan ribet meluangkan waktu tenaga dan pikiran untuk sebuah ejekan yang sebenernya tu merupakan hal yang tidak terlalu penting untuk selalu di bicarakan, lama lama juga capek sendiri. Dari segi kia sendiri emmm. sebenrnya juga terlalu buang buang tenaga dan pikiran juga untuk menanggapi seseorang yang tidak penting dan tidak berdapak apa apa bagi kehidupan kita, toh kita jalani kehidupan masing2. Bergaulah dengan orang orang yang memberikan dampak positif terhadap mu niscaya akan meguntungkan dirimu dan tinggalkan lah orang orang yang memberikan dampak negatif terhadapmu yang akan memberikan efek yang buruk kepadamu. (pernah denger hal ini di ayat al Quran) hehe tapi gtw jga ding, maklum 😀

    Sekian dari saya untuk mbak saya yang saya kagumi satu ini menginggat mbak saya jumlahnya bnyak di kluarga besar Trah bani yosokastowo hahaha.
    maav kalo mungkin di situ terlalu terlihat menggurui, saya hanya ingin berbagi aja dengan mbak dan tdak bermaksut apa apa mengngat saya juga pernah mengalami hal seperti itu.
    dan CMIIW(Corec Me If Im Wrong) ya mb 😀
    Maav kalo ada kata kata yang kurang berkenan mbk
    dan Maav kalo terlalu giamana gto hehe
    Harap dimaklumi 😀

  2. Tengkyuu banget untuk ceritanya. yang aku minta adalah mendedah dengan kritis kenapa ‘tubuh’ menjadi media olok-olokan yang paling sering dijumpai. budaya apa yang membentuk dibalik becandaan itu? “mind set dan blue print seperti apa di otak orang-orang sehingga tubuh yang ‘liyan’ (berbeda) menjadi sah untuk dijadikan ‘samsak’ bercandaan?

    Aku tidak marah dengan menulis ini semua. tidak. aku hanya muak sekali. dan harus bicara, harus ku dedah. yang mengalami bukan hanya aku. Rizky juga to… oke, sekali dua kali didiamkan, tapi kalau kemudian ini menjadi pola keseharian, menjadi ‘maklum untuk diterima’ ya sia-sia lah kita punya otak untuk berpikir.

    Yang kuminta adalah pemaparan dasar pemikiran yang menjadikan fisik menjadi sah untuk dijadikan bahan becandaan. orang-orang yang mengolok-olok itu apakah dulunya juga sering diolok-olok sehingga kemudian merasa pantas untuk mengolok-olok orang lain? dendam berantai dong? bagaimana cara dia dibesarkan? berteman dengan siapa? bagaimana ia memandang hidup?

    kalau hidup ternyata hanya dipandang sebagai guyonan ya okeelah.. tapi nek guyonan itu menyakiti orang lain? mosok dia bisa bebas melenggang tanpa rasa bersalah?

    iki hasil pengalaman aku dan teman-teman bertahun-tahun dan disikapi diam. senyum. arep tekan kapan? aku tidak bermaksud menjadi keminter dengan mendedah isu ini. aku ki yo wong bodo lagi sinau nunak-nunuk, golek dalan padang.

    apa sih yang salah dengan budaya dan peradaban kita ini?

  3. Wuih, Mbak Rani… Kayaknya nulis ini sambil “kepanasan” ya? Hehehe… Saya lupa, apakah saya pernah mengalami verbal bully (seperti yang Mbak Rani sebutkan di atas). Kalaupun pernah, sepertinya saya lupa.

    Saat ini yang saya ingat, adalah yang dialami oleh putri saya selama ia bersosialisasi. DIa sendiri saya tegaskan untuk menghargai orang lain. Dan dia masih belajar untuk itu. Tapi kalau bully, justru dia yang sering menjadi “korban”.

    “orang-orang yang mengolok-olok itu apakah dulunya juga sering diolok-olok sehingga kemudian merasa pantas untuk mengolok-olok orang lain? dendam berantai dong? bagaimana cara dia dibesarkan? berteman dengan siapa? bagaimana ia memandang hidup? ”

    Saya setuju dengan komentar Mbak di atas itu. Sebab, sejauh yang saya amati, (dalam hal ini anak-anak kecil itu) sepertinya belajar dari lngkungan terdekat mereka. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak mengajarkan bahwa ada nilai-nilai esensial mengenai harga diri manusia.

    Contoh sederhana: ada anak yang berteriak “ih, kok orang itu item, sih?” Well, anak-anak belum tentu mampu memahami soal diskriminasi fisik macam itu dalam usianya yang sangat dini. Tetapi, tentu ini bukan pembenaran dong yah. Justru di sinilah peran orang tua sebagai panutan terdekat mereka untuk mengingatkan. Fyi, Mbak, aku kerap mendapati orang tua yang diam saja ketika anak-anak mereka melontarkan hal semacam itu. Bukankah sikap diam itu adalah semacam “pembenaran”?

    Selain itu, mungkin memang selera humor orang yang terlampau satir, Mbak. Hehehehe… Salam buat Genduk Danurdoro 🙂

  4. selera humor yang satir dan paiiit… hehehe… iya, aku juga mikir, sekarang sudah ada anak yang jadi tanggungjawab kita to? kalo diskriminasi fisik itu dibiarkan saja, mau jadi ‘manusia’ seperti apa dia? isu-isu seperti ini slippery soil dan memang bersifat subyektif. tapi guyonan ini sudah dianggap lumrah. parah sekali…

    kalo melihat ke belakang, aku dibesarkan di keluarga yang toleran dan memahami. ketika umur 6 SD dan tergila-dila NKOTB, bapak dengan sabar memahami kegilaanku ketika mereka tayang di TV, tidak mengejek dan mencela, ‘opo kuwi grup nggilani’ misalnya… bapak dengan sabar mengantar ke Ramai beli kaset HITS NKOTB. kalau kita ingat sekarang, rasanya hal itu remeh temeh ya… tapi meaningfull..

    tapi mungkin ada untungnya juga dibesarkan dengan tipe keluarga yang celaan dijadikan bahasa sehari-hari.. mentalnya kuat!

    tapi kalau itu menyakiti orang lain?
    apa ya pantas?

  5. Saya rasa budaya “olok olok” karena beberapa faktor. Semakin tinggi intelektualitas seseorang, budaya tersebut semakin berkurang…hmm na bisa merasakan saat di sekolah SMP…SMA yang notabene sekolah ternama dibanding di kampung. Waktu itu di kampung sering di panggil “Ting” alias “Biting”…waktu itu na nangis…sakit…dan ingin bales orang-orang tersebut. Namun untunglah na hidup di keluarga yang bisa memberi pengertian bahwa tidak pantas kita balas mengejek. Bagaimana jika ortu si anak membiarkan…si anak tentu akan membalas…item…gendut…., dan menjadi kebiasaan….budaya itu akan menjadi lingkaran setan..hahaha. Secara luas, antar beda kultur budaya, juga berbeda….jauh lebih santun di jogja lho dik…di banding *e**n…hrs byk ngelus dada, sampe aluss…hehe. Lagi2 karena budaya mereka biasa mengejek…tanpa beban, tidak anak2, muda, tua. Tapi di tingkat intelektualitas yang tinggi semakin berkurang.
    Faktor lain adalah keshalehan dalam beragama baik islam, nasrani, hindu, budha. Semakin tinggi, semakin menurun budaya tersebut.
    Tentu saja, na juga setuju di era yg kapitalis ini, kepentingan dagang menjadi globalisasi atas kecantikan…kurus, putih, rambut lurus. Iklan harus mampu merubah mind set konsumen akan cantik…lha wong wes invest besar bisa 30% bahkan 50% dr biaya prodi tuk iklan. Mind set globalisasi cantik….ditambah budaya mengejek di negeri kita…yah sudahlah kalo banyak yg menjadi korban….dan pundi2 kapitalis semakin besar…karena si korban akan berusaha tidak menjadi korban lagi dan akan mencari korban lain…lingkaran setan…hahaha konsumen yang setia.

    1. Good points and analysis Mbak Na.. Tp kadang aku mikir, “apa ya harus punya intelektualitas tinggi unt tdk menyakiti (dgn sengaja)?” Untuk tdk mengolok2, untuk bisa membaca situasi dan kondisi? Untuk tau batasan mana yg pantas atau tidak? Tidak cukupkah belajar dari kehidupan sehari-hari?
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

  6. memang berbeda itu membuat kita menonjol ran. dan banyak orang yang memanfaatkannya supaya jadi eksis. misalnya ngasih julukan supaya dikenal orang sebagai pencetus ide. semacam penemu gitu mungkin ya hahahaha…. by the way, kowe ki ngefans karo NKOTB to?

    1. Wong-wong sing memanfaatkan kuwi apike utek e dirabuki opo yo? Men output e apik dan nyaman untuk kemaslahatan hajat hidup orang banyak? Kalau julukan itu tanda sayang atau keakraban yg disepakati oleh masing2 pihak, aku bisa menerima. Tapi nek ‘tubuh’ orang lain dijadikan bahan pembicaraan, berkali-kali, diolok-olok, kuwi sing tak kritisi. Ning utek e mikir opo? Gek2 ra mikir? wis gak duwe ‘kesadaran’, wis mati atine po yo?
      Ho oh, mbiyen seneng NKOTB.. Kelas 5 SD, pliiiisss don go geeeelll.. Pas SMP wis seneng mr. Big, going wer nde win blo..

  7. dalam konteks ku mungkin judulnya ganti being single @30 yro and being others.

    nek pas dalam kondisi normal, pertanyaan/pernyataan itu bisa ambil sisi positifnya sebagai bentuk perhatian, untuk mengingatkan.
    tapi nek pas kondisi panas,
    yang ada yo bikin tambah panas.

    yg bisa dilakukan paling tidak dua hal ini Ran:
    melapangkan hati ketika menjadi ‘korban’
    selalu mengingatkan diri untuk tidak melakukan hal yg sama ke org lain

    1. iya Nin.. sorry for replying soooo late… aku mengkategorikan pertanyaan yang kau hadapi adalah ‘pertanyaan sosial’. orang secara umum menganggap bahwa siklus hidup itu segala-galanya dan linier. ketika kita sudah gadis remaja, pertanyaan yang muncul adalah sudah punya pacar belum? ketika sudah lebih dewasa pertanyaannya: kapan nikah? sudah punya calon? Ketika sudah nikah ditanya: sudah hamil belum? kalau sudah punya anak ditanya : kapan nambah momongan? dan seterusnya. kadang pertanyaan itu kejam kok nin, aku juga merasakan, orang-orang itu menganggap menikah itu seperti rumus 1+1=2, padahal kan tidak, banyak pertimbangan. pertanyaan yang menyebalkan ya? mereka tidak di posisi kita yang untuk menjawab itu pun perlu memutar otak dan mengulur kesabaran.

      untuk itulah, kalau tidak benar-benar dekat dan akrab aku tidak akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan siklus kehidupan untuk membuka percakapan. masih banyak hal di dunia ini untuk menanyakan kabar. sedang baca buku apa sekarang? suka sama Pramoedya? kalau Ayu Utami? sudah menulis lagi? kapan nerbitin buku? dll

      oh ya Nin, aku tidak setuju dengan terminologi ‘korban’. itu seperti memosisikan ada yang lebih dan yang tidak. untuk itulah aku menulis kerisauan ini di blog. ini bentuk perjuangan dan coping with the insecurity.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s