Soliloquy

Soliloquy

dahan melintang

Well, dalam tahap-tahap hidup, ndak akan pernah saya mengira bahwa menulis itu sungguh menjadi hal yang sangat berat. Berat karena terlalu banyak yang harus disaring, disimpan, diendapkan dan dibiarkan. Semua luncasan pikiran kabur seketika menjadi lupa, menjadi lalu..

Tapi, kita tak pernah tau juga bila akan ada peristiwa yang bisa membalik kebekuan pikiran ini. Peristiwa yang ndak perlulah saya ungkap di sini.. (Tuh kan.. Saya sudah membatasi).

Yang jelas saya baru saja sadar bahwa keajegan hidup, menghitung tagihan bulanan, cemas dengan biaya imunisasi anak, berangkat kerja terburu waktu, dll, rutinitas yang dengan ringan saya lalui itu tidak menghilangkan risau-risau gak jelas dan sureal.

Tidak hilang.. Cuma tersamarkan..

Dan ketika pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak, siapa yang bisa menjawab? Untuk sampai pada kehidupan saya saat ini apa saja yang telah saya lalui? Apakah ada yang tertinggal? Apakah ada yang belum selesai? Apakah ada yang terlewati?

Atau memang semuanya sudah pas sepas-pasnya?

Tidak pernah mengira juga bahwa akan ada kekosongan yang timbul tiba-tiba. Rasanya seperti jatuh hati dan patah hati di momentum yang sama, di dentaman yang sama pada saat itu juga. Bahagia tapi sedih, sedih tapi bahagia.

Toh, tidak ada yang mutlak di dunia ini bukan…

Dan saya tau ini semua tidak akan terjawab saat ini. Akan ada perjalanan panjang, akan ada masa saya harus meluangkan waktu untuk duduk di bangku.

Bangku, seperti satu-satunya cerpen yang bisa saya selesaikan.

Well, jawabannya tidak harus sekarang, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s