Rawan

Rawan

image

Sampai detik hidup saya saat ini bolehlah saya menyimpulkan bahwa hidup itu sesungguhnya adalah perjalanan dari perasaan rawan ke perasaan rawan berikutnya. Ini kesimpulan berdasarkan pengalaman saya lho, bukan kesimpulan general. Ini untuk saya saja.

Seperti apakah perasaan rawan ini?  Bagaimana ya harus menjelaskannya? Tidak mungkin lah saya meminjam pemikirannya Seno Gumira Ajidarma bahwa perasaan rawan itu seperti memandang senja yang indah, begitu indah, bagaikan tiada lagi yang lebih indah. Memang memandang senja itu menimbulkan perasaan rawan. Tapi perasaan rawan yang saya alami ini terus menerus ada. Hanya kadang saya sadar, kadang saya tidak sadar.

Perasaan rawan bagi saya itu adalah ketika jiwa saya memunculkan banyak pertanyaan-pertanyaan.

Satu dekade yang lalu, pertanyaan mendasar mengenai makanan menghasilkan segebok skripsi yang memuaskan. Padahal pertanyaannya sederhana; bagaimana sih makanan yang disebut enak? Untuk kebudayaan tertentu yang disebut enak itu bagaimana? Syaratnya apa? Apa yang cocok? Apa yang tidak cocok? Apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan? Saat kita memasak, apa saja yang menentukan? Apakah ada cetak biru dalam pengetahuan kita?
Sederhana kan pertanyaannya? Bermodal kerawanan itulah tulisan saya mewujud menjadi skripsi.

Lalu rasa rawan berikutnya menyerang? Apalagi kalau bukan masa depan. Hahahhaa.. Gombal ya.. Tapi buat saya, berlembar-lembar tulisan dalam rangka menjawab pertanyaan itu cukup menggairahkan. Bagaimana puisi-puisi mengalir deras dan alami, sungguh alami, kadang banal, kadang tak tau diri. Mendaki gunung-gunung, menyusuri Jawa dan Bali dalam perjalanan impromptu dan tanpa rencana, membiarkan jalan dan tikungan menuntun apa adanya. Saat itu anggur rasanya lebih manis dan tak terlupakan.

Berikutnya ada juga saat rawan yang membuat candu dan gila. Bukan versi yang manis dan teduh. Ini versi yang purba, liar, mahal obatnya, misterius dan membutakan. Kondisi ini benar-benar rawan dan membahayakan. Syukurlah saya sedang dalam pekerjaan yang menggiring saya pada perjalanan dan petualangan ke Jawa Barat dan Sumatera. Jadi itu cukup meditatif, cukup mengurai walau kadang mendebarkan juga.

Kalau pun kemudian saya menikah itu tentu karena jalannya mengarah ke sana. Ada pertanyaan saya yang diberi jawaban dan kemudian saya menerima jawaban tersebut. Pas, pada saatnya, teplek menurut orang Jawa. Cukuplah diceritakan demikian.

Lalu apakah setelah menikah perasaan rawan itu musnah? Tentu tidak saudara.. Sungguh sangat tidak. Pada mulanya kerawanan mencukupi kebutuhan dasar. Tapi isu kebutuhan dasar ini sungguh tidak cukup seksi untuk menjadikannya puisi. Tulisan saya berhenti, mandeg tanpa semi.
Ketika keguguran di awal kehamilan itu pun obatnya adalah perjalanan. Meniti Lombok, Sumbawa dan Sulawesi Selatan itu sarat dengan makna, bukan? Hanya saja puisi saya mati saat itu. Kata-kata tidak memihak di ujung pena.

Tahun berganti, kerawanan saya tercurahkan untuk mempelajari teka-teki menjahit. Seperti apa to rasanya menjahit? Seperti apa to pokok pikir dari menjahit? Bagaimana to membuat pola? Langkah runtutnya bagaimana? Kenapa jenis kain ini cocok sedang yang lain tidak? Teksturnya, coraknya. Ketika saya sudah tau jawaban; oo begini to caranya bikin kerah, bikin lengan, memasang kancing, dst.. Maka itu sudah cukup, tidak mahir sih tapi mengetahui sistem dan polanya itu seperti memecahkan teka-teki. Ini seperti philosophy learning, belajar dari awal mula, mempelajari ide-ide dan mewujudkannya dalam benda. Boleh jadi saya gampang puas. Sebenarnya saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjahit. Untuk urusan jahit menjahit selanjutnya saya serahkan pada penjahit langganan saja. Saya hanya penasaran. Jadi ketika tidak ada pertanyaan lagi, tidak ada misteri, maka cukuplah sampai di sini.

Ini persis sama seperti saat saya memasak setiap hari. Bahwa terigu sekian dicampur dengan telur sekian dan gula sekian dengan teknik tertentu dan sistem pemanasan tertentu akan menghasilkan hasil yang khusus. Dan jika formula itu diubah sedikit saja maka hasilnya akan berbeda. Saya tidak pernah membuat roti yang sama, pasti ada eksperimen baru. Sungguh asyik. Tapi ketika pola memasak sudah ketemu maka tak ada rahasia, tak ada rasa penasaran, maka saya berhenti memasak untuk eksperimen.

Mungkin begitu.. keadaan rawan itu seperti pencarian makna terus menerus, semuanya aktif, semuanya menerangkan. Tidak ada yang pasif, tidak ada yang diterangkan. Semua bergerak, dari pertanyaan satu ke pertanyaan berikutnya. Pertanyaan yang tak habis dan tak henti..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s