Cemara Tua

Cemara Tua

48.IMG_1543

Berteduhlah sebentar pengembara yang tersesat

Aku sudah mengamatimu mendaki

Terengah-engah di bawah terik mentari

Istirahatkanlah dulu kaki-kaki yang letih

Biarkan bibirmu merasakan lagi dingin air bekalmu

Berteduhlah di bawah payung daunku

Matahari baru sedikit serong ke barat

Bayangan ke timur masih kurang dari sejengkal

Tanggalkan beban barang sebentar

Dan rebahlah di dekat tubuhku

Biarlah angin yang menderu di lembah-lembah menidurkanmu

55.IMG_1551

Lihat, dalam kemilau langit biru

jarum daunku akan menjelma menjadi pendar keperakan

cerah berkeriapan dibuai sang bayu

Oh, betapa lelah dan bingung nya dirimu

Sudahlah, Redakan letih mu selagi sempat

Hiruplah wangi rumput dalam-dalam

Nikmatilah sebentar, Kau tak perlu terburu-buru

Bila sudah kau usir penat

Bentangkan petamu yang kau lipat

Perhatikan dengan seksama sebisamu

Jangan biarkan angin menerbangkannya dari genggamanmu

47.IMG_1542

Runutlah garis-garis hitam di petamu

Siapa tau kau melewatkan sesuatu

Sebilah panah bertanda atau sekeping nama yang terlupa

Aku tau… kau telah tertipu mata angin

Mengira telah menyusur setapak yang membelah lembah

Berjalan sambil menunduk seturut langkah

Melewati bekas reruntuhan berbatu-batu hitam

Tanpa pernah menyadari waktu yang melibasnya

Biarkan kuceritakan kepada mu,

Dahulu, ketika batang tubuhku masih hijau dan lentur

reruntuhan berbatu itu sering dikunjungi oleh pertapa dan pengelana yang sedang mencari

Sebagai tempat nenepi yang sunyi

Itulah mengapa, nak…

Barangkali reruntuhan itu merindukan pengelana sepertimu

Hingga tanpa kau sadari kau berbelok di setapak yang salah

membuatmu menyusur sisi lembah yang berlawanan arah

padahal matahari sudah memberimu tanda lewat bayangannya

Tapi bagaimana aku bisa memberitahumu?

bagimu aku hanya sebatang pohon tua tempat berteduh

dengan balur dan kerut waktu di sekujur tubuh

nah, sekarang, amati sekitarmu,

dengarkanlah dayu angin yang mengalun halus

atau bebaris kabut yang menekuni bebatuan

berharap bertemu embun di sela lelumutan

kau seperti berada di ujung sunyi yang riuh, kan?

Oh, Siapa tau aku bisa mengirim kabar pada burung gunung kelabu

Biar ia menuntunmu pulang ke hilir rindu

Bersabarlah sebentar …

Lihatlah lembah menguning di utara

Ada setapak kecoklatan menuju hutan yang rapat di bawah sana

Di balik dedaunan itu mungkin menanti Jalan pulang yang tersembunyi

Mantapkanlah hatimu, Kuatkanlah langkahmu

Berharaplah akan benih kebaikan yang menyeruak di teduhnya hutan

atau di balik setiap tikungan jalan

61.IMG_1556

Selamat jalan, pengembara….

Jangan pernah kau lupakan Pohon cemara yang menua ini

Juga pada dedesiran angin dan jalan setapak mendaki yang membawamu menepi

sampaikan salamku pada hutan yang wangi

dan rumput berbunga kekuningan di sore hari

juga pada buah-buah pinus yang berjatuhan ke bumi

ah siapa tau, rindu membawamu kembali ke sini

dalam naunganku sekali lagi…

Rani Fajri, 29 Oktober 2006

Yang bersama Mbak Risma pernah tersesat di Lawu sampai Ngawi Juli 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s