Merayakan Kekosongan

Merayakan Kekosongan

image

Saya curiga, awal mula berdirinya mall-mall di kota-kota besar seluruh dunia adalah ide beberapa orang yang direalisasikan dengan sangat mulus dan wah. Orang-orang yang punya kendali kapital maha dahsyat ini berembug bersama dan menelurkan ide. Bahwa dengan peradaban manusia yang semakin karut ini dibutuhkan tempat yang luas, nyaman, temperatur terjaga, penuh cahaya, penuh warna, toilet bersih, lantai licin pualam.

Tapi sebenarnya bukan itu inti dari berdirinya mall-mall kelas ekonomi, bisnis maupun yg eksekutif. Bukan masalah mengeruk keuntungan, karena dalam dunia konsumtif memang itulah hukumnya. Toh peradaban memang menggiring kita untuk membeli segala sesuatu. Memang kita harus terus membeli dan membeli. Sudah tidak ada lagi pertanian subsisten, tidak ada lagi perempuan yang menenun sampai tangannya kapalan, tidak ada lagi yang memasak di rumah, tidak ada lagi yang menjahit baju untuk anaknya.

Dalam dunia konsumtivisme itu diciptakan paham bahwa proses membeli itu bukan terjadi karena kita harus membeli karena butuh, tapi diciptakan paham bahwa kita membeli karena dengan membeli kita akan merasa bahagia. Dengan membeli barang merk internasional maka kita akan merasa menjadi citizen of the world. Kita merasa ikut dalam laju dunia modern. Sepatu A, baju B, tas C, kacamata D, parfum F, lipstik G dan seterusnya. Kita mengidentifikasikan diri kita dengan benda-benda di luar diri kita. Iya, itu memang tujuan dunia konsumtif. Saya amini.

Tapi bukan itu saja, dalam imaji saya, para pemilik kapital itu tau bahwa manusia membutuhkan sesuatu untuk merayakan kekosongan.
Jiwa-jiwa yang kosong itu butuh pelampiasan. Yang menarik adalah jiwa-jiwa yang kosong tadi seringnya tidak sadar kalau mereka kosong, yang mereka yakini adalah dengan barang-barang yang mereka beli akan memberikan efek bahagia dan percaya diri bagi dirinya… Walaupun bahagia dan percaya diri itu hanya ada di pikiran. Sungguh ini hanya permainan pikiran.

Maka dari itu diciptakanlah berbagai macam barang dengan fungsi yang sama tapi dengan desain yang beda-beda tipis saja sebenarnya, namun barang-barang itu direpro sedemikian rupa agar desainnya selalu up to date dan gaya.

Apapun itulah.. Mall itu bagaikan rumah yang berlimpah cahaya. Rumah tempat merayakan kekosongan jiwa. Menggiring jiwa yang hampa untuk singgah dan mengisinya dengan pendar-pendar warna.

Oh, tapi mungkin ini hanya pikiran saya saja kok. Tentu jiwa mas dan mbak yang membaca tulisan ini tidak kosong. Hehehe… 

Tapi kalau suatu saat mas dan mbak ternyata sudah mulai mengoleksi sepatu, jam tangan, tas, parfum dll lebih daripada yang dibutuhkan, maka nampaknya mas dan mbak perlu duduk sambil nyeruput kopi, menghisap rokok dengan religius dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada hidup mas dan mbak…

Mungkin yang terjadi bukan kekosongan, mungkin karena itu adalah salah satu cara bertahan hidup untuk bisa merasakan bahagia..
Mungkin..

Nurani Fajri

Advertisements

One thought on “Merayakan Kekosongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s