Yoga, Tubuh dan Perlawanan Visual

Yoga, Tubuh dan Perlawanan Visual

image

Saya lupa pernah melihat di instagram atau pinterest, pun foto itu tidak saya simpan. Jadi mohon maaf tidak bisa saya tampilkan di sini. Foto sederhana tapi menarik. Seorang gadis Afro-Amerika dengan tubuh besarnya melakukan pose Hanumanasana a.k.a split dengan sedikit backbend yang sempurna. Dan yang paling menarik adalah caption-nya. Gadis itu bilang kurang lebih begini: Saya sudah capek berusaha untuk mendapatkan tubuh ideal. Lebih baik saya memaksimalkan apa yang saya punya..

Dari pernyataan dan foto itu saya paham bahwa gelontoran mitos kecantikan tentang tubuh ideal itu sungguh menyiksa. Saya yakin dia nyaman dengan tubuhnya apa adanya. Dia oke dengan bentuk tubuhnya. Yang tidak oke adalah sangsi sosial yang sangat begitu ‘visual‘ menghakimi tubuh seseorang.

Begini, tiap orang dibekali tubuh dengan kapasitas yang berbeda-beda. Ada memang yang diberi tubuh sesuai dengan paham mitos kecantikan barat; putih semampai tanpa selulit, kaki jenjang, dada mencep-mencep dan seterusnya. Tapi pada kenyataan di dunia ini tubuh manusia itu sungguh sangat spesial dan unik di tiap-tiap tubuh. Kenapa harus menurut pada mitos kecantikan yang dibombardirkan media dan ditahbiskan dunia?

Bukankah dunia dan peradaban ini adalah hasil dari kesepakatan yang diterima sadar atau tidak sadar?
Jadi boleh dong perempuan mendefinisikan kecantikan dan kenyamanan tubuhnya.. Lepas dari semua mitos yang sudah ada.

Ada baliho besar terpampang di ring road utara Jogja. Gambar wajah perempuan dengan tulisan “because visual speaks louder” kalau saya tidak salah. Ah.. Saya semakin jelas memahami arah dunia ini melaju. Bahwa kita sekarang ini hidup di dunia visual dan tubuh adalah salah satu komoditasnya. Dengan hanya melihat fisik seseorang secara selintas kita seolah-olah langsung bisa menilai kemampuan dan kapasitas tubuh itu. Atau mungkin menaksir berapa rupiah yang dihamburkan untuk mewujudkan citra dengan media tubuh itu. Atau mungkin juga dari tubuh itu kita bisa menerka kondisi kesehatan seseorang.

Sering saya berharap bahwa kita akan melihat jauh lebih dalam daripada hanya sekedar visual. Misalnya bertanya pada teman yang lama tak bertemu bukan dengan sapaan yang mengomentari tubuh visual tapi dengan pertanyaan yang jauh lebih dalam tapi sederhana.

“Hai, lama tak bertemu, sehat kan?”

Atau

“Woi, piye kabarmu? Masih minum kopi tanpa gula seperti dulu?”

Atau

“Hei, apa kabar? Piye, wis berhasil napak tilas cintanya Annelies karo Minke, rung?”

Hehe, ya ndak harus gitu sih. Cuma kadang saya capek dengan basa-basi visual. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri seperti inilah laju peradaban kita saat ini.

Jadi, kembali ke contoh gadis Afro-Amerika yang ber-Hanumanasana dengan sempurna tadi. Yang dia lakukan adalah jurus “Lu jual, gue beli.”

~Kalau memang hanya dengan visual maka kamu sekalian menjadi paham, maka dengan ini kutampilkan diri saya apa adanya.~
Dengan perut besar, lengan dan paha tebal melakukan Hanumanasana dengan sempurna tanpa cela. Dia bisa, bahagia dan bangga.

Bahwa tubuh tiap individu dan jiwa itu sungguh berbeda dan tidak bisa dihargai hanya dari satu sudut pandang modernitas Barat atau hegemoni apapun yang menumpulkan kesadaran.

Tentu yoga, sebagaimana yang diajarkan guru saya, adalah olah tubuh yang bertujuan untuk kembali ke dalam diri. Yoga bukan kompetisi. Yoga bukan sekedar mengejar target agar bisa melakukan pose paling advance dan rumit. Bukan..
Yoga mengajarkan untuk mengenali, memahami dan mencintai tubuh dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Bernafas tenang, menjadi bagian semesta, dan bahkan menjadi semesta kecil yang utuh dan penuh.

Dan sebagaimana gadis Afro-Amerika yang indah itu, saya pun menemukan kenyamanan dengan beryoga.

Anggap lah foto-foto yoga dari tubuh yang jauh dari mitos kecantikan Barat adalah bentuk perlawanan visual. Bahwa keindahan itu jauh lebih luas daripada yang telah ditanamkan di pikiran kita selama ini.

Atau, kalau ndak mau mikir berat-berat, foto-foto yoga itu adalah cara bahagia dan sederhana untuk menikmati tiap momen dalam hidup kita..

Bukankah, all you have is this moment?
Right at this moment?

Namaste _/\_

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s