Kembali

Kembali

image

Kembali belajar di Sastra -dulu kami menyebutnya begitu- atau Ilmu Budaya itu rasanya saya begitu berkelimpahan. Kembali membahas teori dan asumsi, konsep dan sudut pandang. Merasakan kembali duduk-duduk entah apa di Bonbin di senja menjelang malam. Disapa dan ditanya kabarnya oleh Yu Par dan mas-mas yang bikin jus di Bonbin. Rasanya saya boleh dong ge-er dikit, paling tidak wajah saya ini lumayan diingat. Atau, boleh jadi saya orangnya tidak mudah dilupakan.. #uhuk..

Tapi bener, hampir dua minggu kuliah rutin, bertemu teman baru, bertemu Mas Heddy (terima kasih untuk rekomendasinya) dan Pak Laksono rasanya seperti fireworks. Antro sudah berubah, ada dosen baru dengan mata kuliah yang baru. Dan yang jelas, sakit kepala yg menyerang saya tiap jam 10 pagi sampai sore ketika di kantor, lenyap tanpa bekas. Bener, serius…  Ya mungkin oksigen di kantor kurang lancar, udara tidak bersih, mungkin… Hehe.. No mention ah yg lain..
Tapi, 4 tahun kerja di birokrasi itu ternyata sangat berdampak. Bagaimana tidak, ketika bekerja di sistem organisasi yg lurus, kaku, berjenjang itu kan ya mau ndak mau pikiran kita jadi terpola gitu ya.. Jadi ketika disodori teori tentang “kelas”, otak saya memaksa untuk mencari konsep yang inti dan baku. Baru kemudian saya sadar, kok saya jadi esensialis gini ya.. Bukankah ilmu sosial budaya itu luwes, tidak ada yang benar-benar benar dan tak ada yang benar-benar salah. Semua tergantung fenomenanya, pertanyaannya, paradigmanya dan lain-lain…
Saya merasa semacam kutu di bulu-bulu kelincinya Dunia Sophie yang sudah terlena kenyamanan dunia trus ditarik ke atas untuk melihat dunia… Hahhaha..

Hari ini, kuliah Epistemologi Antropologi-nya Mas Heddy, Budaya Populernya Mbak Suzie dan Antropologi Visualnya Pak Laksono rasanya itu bahagia -matanya kelop-kelop sumringah- Alhamdulillaaaaah…

Well, selain itu yang tak pernah terbayangkan adalah kok bisa kuliah Antropologi di Sastra naik lift? Ini di luar bayangan kami ketika kuliah S1 dulu.. Piye ngono… Maaf ya, tapi ini bener seperti gegar budaya. Dulu Sastra kayak mana, kami penelitian di pelosok dengan segala keterbatasan, lha kok sekarang kuliah pakai ac, naik lift, toilet kering ala mall… Piyeee??? Bayangkan…

Ya beginilah,
gegar cecereme mahasiswa baru…
Unbelieveble..

6:17 pm
Bonbin Sastra ditemani denting gitar dengan lagu rock lawas..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s