Aside

Questioning Ubud, questioning me…

 

IMG_20160207_160452

Minggu sore selepas jam empat, saya berjalan sedikit terburu di sepanjang Jl. Monkey Forest Ubud. Sopir kami tidak berhasil menemukan tempat parkir sehingga memutuskan untuk menurunkan kami dan akan menjemput ketika kami sudah selesai dan puas menyusuri Jl. Monkey Forest. Jalan ini saya susuri untuk kedua kali setelah hari sebelumnya saya mengunjungi kawasan Monkey Forest yang rimbun dengan pohon-pohon tua, monyet-monyet, dan jembatan melengkung di antara sulur pohon yang mengingatkan saya akan gambaran Rivendell di film Lord of the Rings. Jalan Monkey Forest ini searah, sempit begitu padat dengan toko-toko kecil yang menjual barang-barang yang sedap dipandang mata. Dari toko baju ala surfing dari luar negeri dengan mbak-mbak penjaga toko bercelana gemes dan mas-mas yang berkaos santai, toko perhiasan perak karya desainer, toko kain batik dengan pewarna alami, toko kosmetik asli Bali dengan tajuk Utama Spice, supermarket mini, gallery lukisan yang sayangnya isinya hampir sama dengan gallery lukisan yang lain di sepanjang jalan ini, sampai toko boneka bIMG_20160207_163635uatan tangan yang eksklusif dan dibuat terbatas. Di sela-sela toko terdapat kafe-kafe kecil yang ramai dengan pengunjung bule, pramusaji berbaju putih yang setia menunggu di muka pintu dan tersenyum ramah, gang-gang sempit seukuran satu orang yang menuju sanggar yoga, hotel-hotel backpacker maupun hotel bintang tiga bertebaran di antara deretan toko-toko mungil.

Saya berjalan agak tergesa, antara kepikiran sopir yang menunggu dan jatah waktu sewa mobil yang semakin menipis, perut yang lapar dan keinginan untuk mencerap pengalaman di sepanjang jalan ini. Danur mulai rewel dan kecapekan sehingga digendong ayahnya. Ibu saya dan Dika yang tidak ikut masuk ke toko pakaian memutuskan untuk mencari toliet di tempat lain dan berpisah dengan saya. Entah bau apa saja yang sanggup saya cium dan kenali di jalan itu. Lupakan tentang harum bunga dan kesegaran daun, Jl. Monkey forest sudah pengap dengan asap kendaraan yang macet tepat di tikungan kawasan monkey Forest. Belum lagi suara raungan motor, klakson mobil dan bis, hingar bingar suara house music dari toko-toko dan sebagainya. Imaji saya akan Ubud yang tenang, damai dan hening kandas seketika. Trotoar -kalau bisa disebut dengan istilah ini- begitu sempit, tidak rata dan berbau tidak sedap jika penutup gotnya terbuka.

Saya berpapasan dengan mbak-mbak bule berumur belasan tahun dengan celana pendek dan kaos minimalis, tersenyum-senyum sambil mengobrol dengan teman-temannya. Ada mas-mas bule nan rupawan berambut gimbal sedang menyerahkan setumpuk pakaian kotor di laundry. Seorang perempuan bule dengan sunglasses muktahir duduk di kafe menghadap ke jalan sambil sibuk memotret dengan kamera prosumernya. Satu keluarga bule dengan dua anak yang memilah-milah baju diskon di gerai yang dibuka di depan toko. Intinya adalah orang bule ada di manapun mata memandang dan di antara pemandangan ini menyelip satu dua wajah oriental yang saya temui. Entah kenapa sedikit sekali wisatawan sebangsa yang saya temui. Orang Indonesia atau orang Bali yang saya temui biasanya adalah penjaga toko, pramusaji di kafe dan restoran, satpam hotel, sopir, calo taksi dan semua kelas pekerja yang ada di sana.

Semakin ke utara, jalan tidak sepadat di sekitar kawasan Monkey Forest. Mobil dan motor diparkir di sisi kiri jalan, menyisakan dua pertiga jalan untuk kendaraan yang lalu lalang. Kadang semua ini membuat saya merasa aneh dan asing berada di tempat ini. Kenapa saya rela menghamburkan uang hanya untuk merasakan pengalaman berada di Ubud Bali? Peringatan Dika sebelumnya bahwa Ubud sudah berubah dan tidak seperti yang diharapkan tidak menyurutkan niat untuk berlibur bersama keluarga. Apa yang istimewa dari jalan sempit, sumpek, suara bising kendaraan bermotor, bau asap motor dengan deretan toko-toko yang mengancam kesehatan isi dompet ini? Bukankah pengalaman ini bisa saja kita temui di Jl. Malioboro atau Jl. Prawirotaman? Akan tetapi agak geli juga membayangkan saya berjalan menyusuri Jl. Prawirotaman seakan-akan saya wisatawan yang tidak tinggal di Kotagede yang jaraknya hanya empat – lima kilo dari Jl. Prawirotaman.

Entah apa yang dirasakan oleh orang yang berlalu lalang bersama saya di Jl. Monkey Forest ini. Apakah mereka juga merasakan keresahan yang saya rasakan atau tidak. Saya pikir hal paling mendasar dari sebuah perjalan ke tempat lain adalah pengalaman untuk merasa “berada di sana” dan ini bisa juga berarti untuk berbesar hati merasakan sebuah tempat yang jauh dari ekspektasi sebelumnya. Bisa jadi wisatawan-wisatawan ini juga berpikir hal yang sama atau mungkin ini pembenaran yang saya ajukan untuk menghibur diri sendiri.

Ubud dikenal sebagai desa para seniman seperti Antonio Blanco dan lain sebagainya. Ubud juga selalu dicitrakan sebagai jantung budaya Bali di mana kita bisa menemui keindahan alam dan budaya Bali yang sesungguhnya yang jauh berbeda dari kawasan pantai seperti Sanur, Kuta dan seterusnya. Apalagi setelah film Julia Robert dan Javier Bardem berjudul Eat, Pray, Love menjadi hits. Film berdasar pada buku berjudul sama karangan Elizabeth Gilbert ini berlokasi di Ubud Bali dengan scene pemandangan menakjubkan seperti kawasan Monkey Forest, sawah bertingkat di Tegallalang, Pasar Ubud dan jalan sunyi di antara sawah dengan padi menghijau yang subur. Saya yakin visualisasi keindahan Ubud di film itu turut menyumbangkan kepadatan wisatawan dan pembangunan toko, resort di sekitar kawasan ini. Romantisme tropis, daya tarik ritual agama yang dalam penunaiannya laksana sebuah pertunjukan, resort-resort indah dan gembar-gembor dalam cuitan wisatawan di media sosial beserta foto-foto yang tersebar dalam sepersekian detiknya membuat kawasan ini menjadi idaman untuk dikunjungi.

Dan di antara orang-orang yang mengidamkan untuk merasakan sensasi Ubud adalah saya. Sebuah proyek wisata ambisius yang saya canangkan dengan dalih membahagiakan keluarga. Tentu saja ini semua tidak sia-sia,saya bisa temu kangen dengan Dika dan berjalan-jalan bersamanya seperti ketika kami pergi untuk acara kantor. Ibu saya yang bermimpi ingin ke Bali sangat bahagia menikmati perjalanan ini begitu juga Mas wawan dan Danur.

IMG_20160207_164642

Hanya kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa sih yang disebut sebagai daerah wisata? Kenapa kita begitu tertarik dan menahbiskan suatu tempat sebagai daerah wisata ketika sudah ada bule yang berkunjung di sana? Kenapa konsep berlibur atau wisata itu cenderung diartikan dengan pengalaman mengunjungi daerah asing dan jauh dari rumah? Kalau konsep wisata adalah refreshing, kenapa saya harus mengikuti konsep refreshing menurut kacamata Barat? Kenapa untuk mengenali negeri sendiri saya justru berpedoman pada kitab Lonely Planet yang saya bawa ke mana-mana dalam perjalanan saya selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini bergumul di benak bersamaan rasa pegal di betis, gerah dan keinginan untuk segera kembali ke resort yang terletak di Penestanan, sekitar satu kilometer sebelah barat Jl. Monkey Forest. Bagaimanapun juga tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. Laju romantisasi Ubud sebagai daerah yang romantis dan bertuah tentu tak terbendung di era digital ini. Sebuah keajaiban juga bila melihat ritual Hindu Bali yang masih kuat dipegang teguh di pura-pura yang terhimpit bangunan kafe dan toko. Juga saat seorang pegawai keluar dari toko dan meletakkan sesajen sambil mendaraskan doa. Perempuan berkain dan berkebaya menyunggi sesajen berjalan berurutan menuju pura di antara wisatawan yang berlalu lalang.

Toh Ubud bukan hanya Jl. Monkey Forest, batin saya membela diri. Ubud lebih luas dari sepenggal jalan yang riuh itu. Jauh jika kita masuk ke jantung-jantung pedesaan Ubud kita masih bisa menemui atmosfer Ubud yang lain. Rumah-rumah Bali yang indah sekaligus misterius, seorang ibu yang menggiring babi masuk ke rumah, jalan sempit dan lengang di antara hijau sawah dan lain sebagainya. Semua ini masih penuh arti, batin saya sekali lagi.

Sudah hampir setengah enam sore, ibu dan Dika ternyata sempat menikmati duduk-duduk di kafe sambil menikmati hidangan dan suasana selama menunggu saya menyusuri jalan ini. Kami segera mengirimkan lokasi kami melalui Whatsapp Messenger kepada Mas Bai sopir kami setelah kami berkumpul di ujung Jl. Monkey Forest. Mobil Suzuki APV berwarna perak melesat menuju Penestanan dan saya termangu sambil memperhatikan sepanjang jalan yang begitu sesak dengan aktivitas orang.

Di temaram senja ketika melewati Istana Ubud yang di sudutnya sudah berdiri Kedai Starbuck yang ramai dengan wisatawan, pertanyaan tadi kembali menyeruak. Apa yang sebenarnya saya cari dari perjalanan ini, kalau gerai-gerai dengan merk yang sama bisa saya temui di Jogja? Apakah suatu saat nanti di sudut Keraton Jogja akan berdiri Starbuck juga? Apakah ini yang berarti surga bagi wisatawan? Bagaimana dengan orang Ubud sendiri? Apakah mereka menikmatinya? Apakah saya menikmatinya?

Rani

23 Mei 2016

Advertisements

One thought on “Questioning Ubud, questioning me…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s