Palsu

Palsu

image

Bila tidak ada kata-kata palsu yang muntah dari mulutku, mungkin kau sudah benar-benar jatuh cinta padaku.

Aku sangat yakin dengan itu.

Masalahnya, kata-kata palsu kadung keluar dan tak bisa kutelan lagi. Kulihat wajahmu terluka dan kecewa. Menarik senyum, menggugurkan kagum..

Ku tulis ini sambil menyesap rokok dengan religius. Seperti kata-katamu bukan? “Dengan religius.”

Seandainya kata-kata palsu itu tidak terpercik, mungkin kita sudah duduk manis berdua. Tertawa-tawa ditemani buku-buku, bergelas-gelas bir, sambil memandang reruntuhan kota dan membahas tentang awal mula peradaban, ilmu bumi, sastra dan geometri.

Tapi toh kata-kata palsu memang sengaja kulontarkan. Karena bayanganku tadi terlalu banal dan kurang ajar.

Harus ada kata-kata yang menyelesaikan harapanmu. Harus ada kalimat yang meruntuhkan rasamu.

Rasa kita berdua sebenarnya..

Karena aku tak sanggup menanggungnya.. Tak sanggup menjalaninya..

Bila tak ada kata-kata palsu dari mulutku mungkin kau sudah jatuh cinta padaku..
Sebagaimana aku jatuh cinta padamu..

Rani Fajri

Advertisements
Cemara Tua

Cemara Tua

48.IMG_1543

Berteduhlah sebentar pengembara yang tersesat

Aku sudah mengamatimu mendaki

Terengah-engah di bawah terik mentari

Istirahatkanlah dulu kaki-kaki yang letih

Biarkan bibirmu merasakan lagi dingin air bekalmu

Berteduhlah di bawah payung daunku

Matahari baru sedikit serong ke barat

Bayangan ke timur masih kurang dari sejengkal

Tanggalkan beban barang sebentar

Dan rebahlah di dekat tubuhku

Biarlah angin yang menderu di lembah-lembah menidurkanmu

55.IMG_1551

Lihat, dalam kemilau langit biru

jarum daunku akan menjelma menjadi pendar keperakan

cerah berkeriapan dibuai sang bayu

Oh, betapa lelah dan bingung nya dirimu

Sudahlah, Redakan letih mu selagi sempat

Hiruplah wangi rumput dalam-dalam

Nikmatilah sebentar, Kau tak perlu terburu-buru

Bila sudah kau usir penat

Bentangkan petamu yang kau lipat

Perhatikan dengan seksama sebisamu

Jangan biarkan angin menerbangkannya dari genggamanmu

47.IMG_1542

Runutlah garis-garis hitam di petamu

Siapa tau kau melewatkan sesuatu

Sebilah panah bertanda atau sekeping nama yang terlupa

Aku tau… kau telah tertipu mata angin

Mengira telah menyusur setapak yang membelah lembah

Berjalan sambil menunduk seturut langkah

Melewati bekas reruntuhan berbatu-batu hitam

Tanpa pernah menyadari waktu yang melibasnya

Biarkan kuceritakan kepada mu,

Dahulu, ketika batang tubuhku masih hijau dan lentur

reruntuhan berbatu itu sering dikunjungi oleh pertapa dan pengelana yang sedang mencari

Sebagai tempat nenepi yang sunyi

Itulah mengapa, nak…

Barangkali reruntuhan itu merindukan pengelana sepertimu

Hingga tanpa kau sadari kau berbelok di setapak yang salah

membuatmu menyusur sisi lembah yang berlawanan arah

padahal matahari sudah memberimu tanda lewat bayangannya

Tapi bagaimana aku bisa memberitahumu?

bagimu aku hanya sebatang pohon tua tempat berteduh

dengan balur dan kerut waktu di sekujur tubuh

nah, sekarang, amati sekitarmu,

dengarkanlah dayu angin yang mengalun halus

atau bebaris kabut yang menekuni bebatuan

berharap bertemu embun di sela lelumutan

kau seperti berada di ujung sunyi yang riuh, kan?

Oh, Siapa tau aku bisa mengirim kabar pada burung gunung kelabu

Biar ia menuntunmu pulang ke hilir rindu

Bersabarlah sebentar …

Lihatlah lembah menguning di utara

Ada setapak kecoklatan menuju hutan yang rapat di bawah sana

Di balik dedaunan itu mungkin menanti Jalan pulang yang tersembunyi

Mantapkanlah hatimu, Kuatkanlah langkahmu

Berharaplah akan benih kebaikan yang menyeruak di teduhnya hutan

atau di balik setiap tikungan jalan

61.IMG_1556

Selamat jalan, pengembara….

Jangan pernah kau lupakan Pohon cemara yang menua ini

Juga pada dedesiran angin dan jalan setapak mendaki yang membawamu menepi

sampaikan salamku pada hutan yang wangi

dan rumput berbunga kekuningan di sore hari

juga pada buah-buah pinus yang berjatuhan ke bumi

ah siapa tau, rindu membawamu kembali ke sini

dalam naunganku sekali lagi…

Rani Fajri, 29 Oktober 2006

Yang bersama Mbak Risma pernah tersesat di Lawu sampai Ngawi Juli 2006

The Unbelievable Journey

The Unbelievable Journey

62.DSC04619

Harusnya tiap detik perjalanan kita diabadikan dalam kata-kata

Kalau saja kata-kata sanggup menanggung kandungan maknanya

Ribuan kilo yang berlalu tak menguap begitu saja kan?

Walau detik menerjang di pelabuhan waktu dan masa

Menggurat seribu tanya dan jawab rahasia

Di jalan yang tak termaktub dalam peta kita luruh dalam laju

menyongsong kelindan harapan dan kecemasan

Berharap tikungan di depan penuh kejutan

Entah apa yang menjemput di balik kelok rimbun jati

Atau siapa yang menanti di sebrang samudera

yang membiru dalam ranum senja

Hanya tiba-tiba saja, seolah-olah purnama sayu sudah menunggu

dan renyah gerimis telah merindu saat kita lelap dalam pacu

306.DSC04750

Mestinya tiap gelak tawa dimasukkan dalam tabung kaca

Biar sewaktu-waktu bisa kita lihat lagi sambil terseyum geli

Lalu semua payah dan letih diterbangkan bersama angin dan debu

Biar lantak dalam putaran roda yang menderu

Simpanlah sebersit rindu di benak mu,

Barangkali suatu saat nanti kelokan jalan itu akan memanggil kita kembali

untuk berkelana bersama sekali lagi

Pun pada akhirnya, hanya Dia lah satu-satunya yang tau

Alasan sejati dari seluruh perjalanan ini

Yang tercecap oleh indera kita hanya lah sedikit rahasia

Yang dipinjamkan sementara

58.IMG_0061

Rani Fajri 11-12 april 2007, selepas 10 malam dan paginya

The unbelievable journey to Gresik-Bali-Bromo

With Tika, Adit, Inu and Gabban 5-9 April 2007

thanks a lot to Mbak Uci, Ulil and Bli Gede

Lentik Api

Lentik Api

Picture rani juni 13 139

Lentik api menari di sela bara

kelip-kelip memecah sunyi

Angin gunung sejenak menyapa

Membawa segigil dingin dan menawar seteguk sepi

kuharap sisa bara ini menghangatkan hati

Sayang, kini tinggal pendar merah di pangkal ranting

Sebentar lagi mati lalu malam kan merajai

(Di antara belukar dan tanah merah kering di bahu Sumbing

ditemani langit suram dan bulan yang tak gerhana sempurna,

pertengahan 2001 yang lalu.)

Rindu

Rindu

image

Aku tak mengira kalau rindu bisa lahir dari kata-kata
Kata-kata yang menyusun kalimat tanya “mengapa” dan “bagaimana”

Di kemudian hari rindu itu menjadi segenggam cahaya lembut dan terang yang terpaksa kusembunyikan
Ku simpan di laci, ku selipkan di lemari

Saat kita bertemu dalam bincang dan gelak, rindu itu kusimpan rapi agar terangnya tak menyilaukan
Agar getarnya sedikit teredam

Dan apakah itu di dalam saku mu? Seberkas sinar yang rasanya sungguh ku kenal, sungguh ku paham
Tapi perbincangan kita sangat seru dan aku pura-pura tidak tahu..

Nurani Fajri
18 Maret 2015

untukmu

untukmu

Biar kuselesaikan satu putaran menziarahi matahari,

menaburi relik tulang belulang api dengan bunga lili,

dan mengusap jeram air mata dengan tenunan hari…

Biar kuselesaikan satu bab waktu sebentar lagi,

Lalu nanti,

Tunggu aku di hulu redam sungai,

tempat ikan-ikan mengecipak terumpan kekail..

Untuk mu…

semoga bisa kubawakan serta sepotong reroti

bersalut pelangi, bertabur embun pagi..

Padang Cermin, 17 Februari 2009