Aside

Di Bonbin siang ini

Di bonbin siang ini
.
.
Kita ndak pernah tau bagaimana rasanya menjadi orang lain. Menjadi seperti yg kita lihat saat ini pasti tidak mudah dan penuh perjuangan.

Sungguh betapa ribetnya harus pasang bulu mata sebesar itu setiap hari, bergincu merah, memastikan alis dan eyeliner tetap di tempatnya di terik Jogja yang panas dan gerah. Berdendang gemulai dengan senyum mengembang.
Kita ndak tau kan, bisa jadi semalam dia patah hati ditinggal kekasihnya, semalam dia ditipu, uangnya habis, atau anaknya sakit..
We never know.

Dan menanggung semua cap yang harus disandangnya..
.
.
Lalu saya?
Saya akan tersenyum manis sekaligus penuh hormat dan mengamini doa-doa yang dia panjatkan.
Saya yakin mustajab.

View on Path

Advertisements
Aside

2016 August, kali ini..

Sebenarnya sejak kapan berdirinya negara dirayakan dengan lomba-lomba yang menggelikan. Dalam banyak hal, saya termasuk yang kurang nyaman dengan perayaan seperti ini. Akan tetapi demi sebuah basa-basi dan kesalehan sosial tingkat kampung maka ada baiknya ikut meramaikan. Minimal ikut satu lomba yang paling memungkinkan untuk saya.

Good point adalah lomba ini semacam media mengakrabkan warga kampung sekaligus juga media kontrol siapa yg absen, siapa yg rajin. “Ngetok ning kampung” adalah salah satu alasan kuat sekaligus hegemoni paling sederhana supaya dianggap hidup wajar dalam kiprah seseorang di kampung.

Beberapa ibu-ibu sangat serius mengikuti lomba ini. Kecewa kalau kalah, bersuka cita jika menang. Tahun ini lomba ibu-ibu hanya ada tiga. Balapan menyunggi tampah seperti foto di atas, makan kerupuk dan memasukkan belut ke dalam botol. Saya hanya ikut yang balapan menyunggi tampah karena alasan sederhana, ini balapan yang paling punya dignity.. Hahaha… Tapi ini opini saja lho ya..
Agak aneh balapan makan kerupuk yg diikat tali, agak disgrace buat saya.. Honestly…
Dan lomba terakhir, memasukkan belut di botol. MC lomba, seorang laki-laki paruh baya, menyemangati ibu-ibu dengan komentar yang berbau seksis. I don’t know.. Jadi ingat penis envy..

Kenapa sih yg lomba bukan bapak-bapak..??

Kenapa sih lombanya macam begini?

Semua berdalih supaya kampung rame, buat seneng-seneng, biar guyub, dll.. Mungkin ini benar. Atau mungkin ini semacam olok-olokan untuk Indonesia, negara yang dengan serius dibangun ini diperingati dengan lomba fun yang politically incorect menurut saya. Atau mungkin ini pelepasan dari situasi yg lebih rumit dan tak terjangkau di luar sana..

Semua bergembira, saya duduk mesam-mesem. At least, saya sudah ikut lomba, kewajiban sosial sudah terpenuhi.

Dan ternyata masih ada lomba satu lagi, memukul kantong plastik berisi air.

Sudahlah, seharusnya saya mengikuti falsafah budaya populer saja supaya semua ini lebih nampak sederhana dan menyenangkan…

View on Path

Aside

Questioning Ubud, questioning me…

 

IMG_20160207_160452

Minggu sore selepas jam empat, saya berjalan sedikit terburu di sepanjang Jl. Monkey Forest Ubud. Sopir kami tidak berhasil menemukan tempat parkir sehingga memutuskan untuk menurunkan kami dan akan menjemput ketika kami sudah selesai dan puas menyusuri Jl. Monkey Forest. Jalan ini saya susuri untuk kedua kali setelah hari sebelumnya saya mengunjungi kawasan Monkey Forest yang rimbun dengan pohon-pohon tua, monyet-monyet, dan jembatan melengkung di antara sulur pohon yang mengingatkan saya akan gambaran Rivendell di film Lord of the Rings. Jalan Monkey Forest ini searah, sempit begitu padat dengan toko-toko kecil yang menjual barang-barang yang sedap dipandang mata. Dari toko baju ala surfing dari luar negeri dengan mbak-mbak penjaga toko bercelana gemes dan mas-mas yang berkaos santai, toko perhiasan perak karya desainer, toko kain batik dengan pewarna alami, toko kosmetik asli Bali dengan tajuk Utama Spice, supermarket mini, gallery lukisan yang sayangnya isinya hampir sama dengan gallery lukisan yang lain di sepanjang jalan ini, sampai toko boneka bIMG_20160207_163635uatan tangan yang eksklusif dan dibuat terbatas. Di sela-sela toko terdapat kafe-kafe kecil yang ramai dengan pengunjung bule, pramusaji berbaju putih yang setia menunggu di muka pintu dan tersenyum ramah, gang-gang sempit seukuran satu orang yang menuju sanggar yoga, hotel-hotel backpacker maupun hotel bintang tiga bertebaran di antara deretan toko-toko mungil.

Saya berjalan agak tergesa, antara kepikiran sopir yang menunggu dan jatah waktu sewa mobil yang semakin menipis, perut yang lapar dan keinginan untuk mencerap pengalaman di sepanjang jalan ini. Danur mulai rewel dan kecapekan sehingga digendong ayahnya. Ibu saya dan Dika yang tidak ikut masuk ke toko pakaian memutuskan untuk mencari toliet di tempat lain dan berpisah dengan saya. Entah bau apa saja yang sanggup saya cium dan kenali di jalan itu. Lupakan tentang harum bunga dan kesegaran daun, Jl. Monkey forest sudah pengap dengan asap kendaraan yang macet tepat di tikungan kawasan monkey Forest. Belum lagi suara raungan motor, klakson mobil dan bis, hingar bingar suara house music dari toko-toko dan sebagainya. Imaji saya akan Ubud yang tenang, damai dan hening kandas seketika. Trotoar -kalau bisa disebut dengan istilah ini- begitu sempit, tidak rata dan berbau tidak sedap jika penutup gotnya terbuka.

Saya berpapasan dengan mbak-mbak bule berumur belasan tahun dengan celana pendek dan kaos minimalis, tersenyum-senyum sambil mengobrol dengan teman-temannya. Ada mas-mas bule nan rupawan berambut gimbal sedang menyerahkan setumpuk pakaian kotor di laundry. Seorang perempuan bule dengan sunglasses muktahir duduk di kafe menghadap ke jalan sambil sibuk memotret dengan kamera prosumernya. Satu keluarga bule dengan dua anak yang memilah-milah baju diskon di gerai yang dibuka di depan toko. Intinya adalah orang bule ada di manapun mata memandang dan di antara pemandangan ini menyelip satu dua wajah oriental yang saya temui. Entah kenapa sedikit sekali wisatawan sebangsa yang saya temui. Orang Indonesia atau orang Bali yang saya temui biasanya adalah penjaga toko, pramusaji di kafe dan restoran, satpam hotel, sopir, calo taksi dan semua kelas pekerja yang ada di sana.

Semakin ke utara, jalan tidak sepadat di sekitar kawasan Monkey Forest. Mobil dan motor diparkir di sisi kiri jalan, menyisakan dua pertiga jalan untuk kendaraan yang lalu lalang. Kadang semua ini membuat saya merasa aneh dan asing berada di tempat ini. Kenapa saya rela menghamburkan uang hanya untuk merasakan pengalaman berada di Ubud Bali? Peringatan Dika sebelumnya bahwa Ubud sudah berubah dan tidak seperti yang diharapkan tidak menyurutkan niat untuk berlibur bersama keluarga. Apa yang istimewa dari jalan sempit, sumpek, suara bising kendaraan bermotor, bau asap motor dengan deretan toko-toko yang mengancam kesehatan isi dompet ini? Bukankah pengalaman ini bisa saja kita temui di Jl. Malioboro atau Jl. Prawirotaman? Akan tetapi agak geli juga membayangkan saya berjalan menyusuri Jl. Prawirotaman seakan-akan saya wisatawan yang tidak tinggal di Kotagede yang jaraknya hanya empat – lima kilo dari Jl. Prawirotaman.

Entah apa yang dirasakan oleh orang yang berlalu lalang bersama saya di Jl. Monkey Forest ini. Apakah mereka juga merasakan keresahan yang saya rasakan atau tidak. Saya pikir hal paling mendasar dari sebuah perjalan ke tempat lain adalah pengalaman untuk merasa “berada di sana” dan ini bisa juga berarti untuk berbesar hati merasakan sebuah tempat yang jauh dari ekspektasi sebelumnya. Bisa jadi wisatawan-wisatawan ini juga berpikir hal yang sama atau mungkin ini pembenaran yang saya ajukan untuk menghibur diri sendiri.

Ubud dikenal sebagai desa para seniman seperti Antonio Blanco dan lain sebagainya. Ubud juga selalu dicitrakan sebagai jantung budaya Bali di mana kita bisa menemui keindahan alam dan budaya Bali yang sesungguhnya yang jauh berbeda dari kawasan pantai seperti Sanur, Kuta dan seterusnya. Apalagi setelah film Julia Robert dan Javier Bardem berjudul Eat, Pray, Love menjadi hits. Film berdasar pada buku berjudul sama karangan Elizabeth Gilbert ini berlokasi di Ubud Bali dengan scene pemandangan menakjubkan seperti kawasan Monkey Forest, sawah bertingkat di Tegallalang, Pasar Ubud dan jalan sunyi di antara sawah dengan padi menghijau yang subur. Saya yakin visualisasi keindahan Ubud di film itu turut menyumbangkan kepadatan wisatawan dan pembangunan toko, resort di sekitar kawasan ini. Romantisme tropis, daya tarik ritual agama yang dalam penunaiannya laksana sebuah pertunjukan, resort-resort indah dan gembar-gembor dalam cuitan wisatawan di media sosial beserta foto-foto yang tersebar dalam sepersekian detiknya membuat kawasan ini menjadi idaman untuk dikunjungi.

Dan di antara orang-orang yang mengidamkan untuk merasakan sensasi Ubud adalah saya. Sebuah proyek wisata ambisius yang saya canangkan dengan dalih membahagiakan keluarga. Tentu saja ini semua tidak sia-sia,saya bisa temu kangen dengan Dika dan berjalan-jalan bersamanya seperti ketika kami pergi untuk acara kantor. Ibu saya yang bermimpi ingin ke Bali sangat bahagia menikmati perjalanan ini begitu juga Mas wawan dan Danur.

IMG_20160207_164642

Hanya kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa sih yang disebut sebagai daerah wisata? Kenapa kita begitu tertarik dan menahbiskan suatu tempat sebagai daerah wisata ketika sudah ada bule yang berkunjung di sana? Kenapa konsep berlibur atau wisata itu cenderung diartikan dengan pengalaman mengunjungi daerah asing dan jauh dari rumah? Kalau konsep wisata adalah refreshing, kenapa saya harus mengikuti konsep refreshing menurut kacamata Barat? Kenapa untuk mengenali negeri sendiri saya justru berpedoman pada kitab Lonely Planet yang saya bawa ke mana-mana dalam perjalanan saya selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini bergumul di benak bersamaan rasa pegal di betis, gerah dan keinginan untuk segera kembali ke resort yang terletak di Penestanan, sekitar satu kilometer sebelah barat Jl. Monkey Forest. Bagaimanapun juga tidak ada yang tidak berubah di dunia ini. Laju romantisasi Ubud sebagai daerah yang romantis dan bertuah tentu tak terbendung di era digital ini. Sebuah keajaiban juga bila melihat ritual Hindu Bali yang masih kuat dipegang teguh di pura-pura yang terhimpit bangunan kafe dan toko. Juga saat seorang pegawai keluar dari toko dan meletakkan sesajen sambil mendaraskan doa. Perempuan berkain dan berkebaya menyunggi sesajen berjalan berurutan menuju pura di antara wisatawan yang berlalu lalang.

Toh Ubud bukan hanya Jl. Monkey Forest, batin saya membela diri. Ubud lebih luas dari sepenggal jalan yang riuh itu. Jauh jika kita masuk ke jantung-jantung pedesaan Ubud kita masih bisa menemui atmosfer Ubud yang lain. Rumah-rumah Bali yang indah sekaligus misterius, seorang ibu yang menggiring babi masuk ke rumah, jalan sempit dan lengang di antara hijau sawah dan lain sebagainya. Semua ini masih penuh arti, batin saya sekali lagi.

Sudah hampir setengah enam sore, ibu dan Dika ternyata sempat menikmati duduk-duduk di kafe sambil menikmati hidangan dan suasana selama menunggu saya menyusuri jalan ini. Kami segera mengirimkan lokasi kami melalui Whatsapp Messenger kepada Mas Bai sopir kami setelah kami berkumpul di ujung Jl. Monkey Forest. Mobil Suzuki APV berwarna perak melesat menuju Penestanan dan saya termangu sambil memperhatikan sepanjang jalan yang begitu sesak dengan aktivitas orang.

Di temaram senja ketika melewati Istana Ubud yang di sudutnya sudah berdiri Kedai Starbuck yang ramai dengan wisatawan, pertanyaan tadi kembali menyeruak. Apa yang sebenarnya saya cari dari perjalanan ini, kalau gerai-gerai dengan merk yang sama bisa saya temui di Jogja? Apakah suatu saat nanti di sudut Keraton Jogja akan berdiri Starbuck juga? Apakah ini yang berarti surga bagi wisatawan? Bagaimana dengan orang Ubud sendiri? Apakah mereka menikmatinya? Apakah saya menikmatinya?

Rani

23 Mei 2016

Damn

Damn

image

Sekarang rindu yang terbentur kenyataan membuatmu menepi dari semuanya, bukan? Kau matikan pemberitahuan, bahkan kau matikan smartphone mu. Kamu diam, mengasingkan diri, memesan mie rebus dan mengumpat-umpat karena rasanya begitu parah… Bukan, bukan mie rebus di burjo langgananmu yang rasanya parah, tapi rindumu yg parah..

Kamu pulang, menutup pintu kamar, membuka laptop, menyalakan rokok dan menyesapnya, memasang earphone dan beberapa saat kemudian menyumpah-nyumpah lagi. Kau menyumpahi musik itu karena rasanya merobek-robek rindumu, dan kau semakin kosong, kosong dan kosong di segenap penjuru..

Dan kau putuskan untuk membeli banyak beer malam ini. Apapun, asal semua ini seimbang kembali. Mungkin, atau tidak barangkali…

Kembali

Kembali

image

Kembali belajar di Sastra -dulu kami menyebutnya begitu- atau Ilmu Budaya itu rasanya saya begitu berkelimpahan. Kembali membahas teori dan asumsi, konsep dan sudut pandang. Merasakan kembali duduk-duduk entah apa di Bonbin di senja menjelang malam. Disapa dan ditanya kabarnya oleh Yu Par dan mas-mas yang bikin jus di Bonbin. Rasanya saya boleh dong ge-er dikit, paling tidak wajah saya ini lumayan diingat. Atau, boleh jadi saya orangnya tidak mudah dilupakan.. #uhuk..

Tapi bener, hampir dua minggu kuliah rutin, bertemu teman baru, bertemu Mas Heddy (terima kasih untuk rekomendasinya) dan Pak Laksono rasanya seperti fireworks. Antro sudah berubah, ada dosen baru dengan mata kuliah yang baru. Dan yang jelas, sakit kepala yg menyerang saya tiap jam 10 pagi sampai sore ketika di kantor, lenyap tanpa bekas. Bener, serius…  Ya mungkin oksigen di kantor kurang lancar, udara tidak bersih, mungkin… Hehe.. No mention ah yg lain..
Tapi, 4 tahun kerja di birokrasi itu ternyata sangat berdampak. Bagaimana tidak, ketika bekerja di sistem organisasi yg lurus, kaku, berjenjang itu kan ya mau ndak mau pikiran kita jadi terpola gitu ya.. Jadi ketika disodori teori tentang “kelas”, otak saya memaksa untuk mencari konsep yang inti dan baku. Baru kemudian saya sadar, kok saya jadi esensialis gini ya.. Bukankah ilmu sosial budaya itu luwes, tidak ada yang benar-benar benar dan tak ada yang benar-benar salah. Semua tergantung fenomenanya, pertanyaannya, paradigmanya dan lain-lain…
Saya merasa semacam kutu di bulu-bulu kelincinya Dunia Sophie yang sudah terlena kenyamanan dunia trus ditarik ke atas untuk melihat dunia… Hahhaha..

Hari ini, kuliah Epistemologi Antropologi-nya Mas Heddy, Budaya Populernya Mbak Suzie dan Antropologi Visualnya Pak Laksono rasanya itu bahagia -matanya kelop-kelop sumringah- Alhamdulillaaaaah…

Well, selain itu yang tak pernah terbayangkan adalah kok bisa kuliah Antropologi di Sastra naik lift? Ini di luar bayangan kami ketika kuliah S1 dulu.. Piye ngono… Maaf ya, tapi ini bener seperti gegar budaya. Dulu Sastra kayak mana, kami penelitian di pelosok dengan segala keterbatasan, lha kok sekarang kuliah pakai ac, naik lift, toilet kering ala mall… Piyeee??? Bayangkan…

Ya beginilah,
gegar cecereme mahasiswa baru…
Unbelieveble..

6:17 pm
Bonbin Sastra ditemani denting gitar dengan lagu rock lawas..

Yoga, Tubuh dan Perlawanan Visual

Yoga, Tubuh dan Perlawanan Visual

image

Saya lupa pernah melihat di instagram atau pinterest, pun foto itu tidak saya simpan. Jadi mohon maaf tidak bisa saya tampilkan di sini. Foto sederhana tapi menarik. Seorang gadis Afro-Amerika dengan tubuh besarnya melakukan pose Hanumanasana a.k.a split dengan sedikit backbend yang sempurna. Dan yang paling menarik adalah caption-nya. Gadis itu bilang kurang lebih begini: Saya sudah capek berusaha untuk mendapatkan tubuh ideal. Lebih baik saya memaksimalkan apa yang saya punya..

Dari pernyataan dan foto itu saya paham bahwa gelontoran mitos kecantikan tentang tubuh ideal itu sungguh menyiksa. Saya yakin dia nyaman dengan tubuhnya apa adanya. Dia oke dengan bentuk tubuhnya. Yang tidak oke adalah sangsi sosial yang sangat begitu ‘visual‘ menghakimi tubuh seseorang.

Begini, tiap orang dibekali tubuh dengan kapasitas yang berbeda-beda. Ada memang yang diberi tubuh sesuai dengan paham mitos kecantikan barat; putih semampai tanpa selulit, kaki jenjang, dada mencep-mencep dan seterusnya. Tapi pada kenyataan di dunia ini tubuh manusia itu sungguh sangat spesial dan unik di tiap-tiap tubuh. Kenapa harus menurut pada mitos kecantikan yang dibombardirkan media dan ditahbiskan dunia?

Bukankah dunia dan peradaban ini adalah hasil dari kesepakatan yang diterima sadar atau tidak sadar?
Jadi boleh dong perempuan mendefinisikan kecantikan dan kenyamanan tubuhnya.. Lepas dari semua mitos yang sudah ada.

Ada baliho besar terpampang di ring road utara Jogja. Gambar wajah perempuan dengan tulisan “because visual speaks louder” kalau saya tidak salah. Ah.. Saya semakin jelas memahami arah dunia ini melaju. Bahwa kita sekarang ini hidup di dunia visual dan tubuh adalah salah satu komoditasnya. Dengan hanya melihat fisik seseorang secara selintas kita seolah-olah langsung bisa menilai kemampuan dan kapasitas tubuh itu. Atau mungkin menaksir berapa rupiah yang dihamburkan untuk mewujudkan citra dengan media tubuh itu. Atau mungkin juga dari tubuh itu kita bisa menerka kondisi kesehatan seseorang.

Sering saya berharap bahwa kita akan melihat jauh lebih dalam daripada hanya sekedar visual. Misalnya bertanya pada teman yang lama tak bertemu bukan dengan sapaan yang mengomentari tubuh visual tapi dengan pertanyaan yang jauh lebih dalam tapi sederhana.

“Hai, lama tak bertemu, sehat kan?”

Atau

“Woi, piye kabarmu? Masih minum kopi tanpa gula seperti dulu?”

Atau

“Hei, apa kabar? Piye, wis berhasil napak tilas cintanya Annelies karo Minke, rung?”

Hehe, ya ndak harus gitu sih. Cuma kadang saya capek dengan basa-basi visual. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri seperti inilah laju peradaban kita saat ini.

Jadi, kembali ke contoh gadis Afro-Amerika yang ber-Hanumanasana dengan sempurna tadi. Yang dia lakukan adalah jurus “Lu jual, gue beli.”

~Kalau memang hanya dengan visual maka kamu sekalian menjadi paham, maka dengan ini kutampilkan diri saya apa adanya.~
Dengan perut besar, lengan dan paha tebal melakukan Hanumanasana dengan sempurna tanpa cela. Dia bisa, bahagia dan bangga.

Bahwa tubuh tiap individu dan jiwa itu sungguh berbeda dan tidak bisa dihargai hanya dari satu sudut pandang modernitas Barat atau hegemoni apapun yang menumpulkan kesadaran.

Tentu yoga, sebagaimana yang diajarkan guru saya, adalah olah tubuh yang bertujuan untuk kembali ke dalam diri. Yoga bukan kompetisi. Yoga bukan sekedar mengejar target agar bisa melakukan pose paling advance dan rumit. Bukan..
Yoga mengajarkan untuk mengenali, memahami dan mencintai tubuh dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Bernafas tenang, menjadi bagian semesta, dan bahkan menjadi semesta kecil yang utuh dan penuh.

Dan sebagaimana gadis Afro-Amerika yang indah itu, saya pun menemukan kenyamanan dengan beryoga.

Anggap lah foto-foto yoga dari tubuh yang jauh dari mitos kecantikan Barat adalah bentuk perlawanan visual. Bahwa keindahan itu jauh lebih luas daripada yang telah ditanamkan di pikiran kita selama ini.

Atau, kalau ndak mau mikir berat-berat, foto-foto yoga itu adalah cara bahagia dan sederhana untuk menikmati tiap momen dalam hidup kita..

Bukankah, all you have is this moment?
Right at this moment?

Namaste _/\_

image

Selamat berpulang Mas Wiwit Semir

Selamat berpulang Mas Wiwit Semir

image

Semua memang akhirnya berpulang padaNya..

Dan itu adalah keniscayaan
Dan tentu ada kesedihan dan haru yang tersekat di ujung tenggorokan.

Hari ini mas Wiwit berpulang setelah travel yang ditumpanginya kecelakaan di tol Cipularang. Travel yang sedianya mengantarnya bertemu dengan saudara-saudara Maiyah di Kenduri Cinta Jakarta.

Saya sungguh sangat tersentuh dengan jiwa-jiwa pencari seperti Mas Wiwit. Seperti teman-teman Maiyah yang rela menempuh berkilo-kilo hanya untuk duduk, berdiskusi dan bersholawat. Mengisi kekosongan jiwa, kekosongan peradaban, mempertanyakan kegundahan, menemukan titik tujuan ke depan.

Saya bukan pemikir seperti mbak dan mas pejalan Maiyah yang begitu sangat khusyuk sekaligus kritis mempertanyakan zaman, mempertanyakan Indonesia. Tapi sungguh saya selalu terharu melihat mata-mata yang begitu hidup dalam Maiyah. Seolah mereka menemukan wadah dan jalan untuk membangun hidup ke depan..
Bagaimana mereka merindukan Muhammad Rasulullah dalam sautan sholawat mereka..

Jiwa-jiwa yang rindu..

Pun begitu juga dengan Mas Wiwit.

Dulu saat Ngayogjazz 2010 di kediaman Joko Pekik, saya termasuk yang diusir dan dibentak mas Wiwit yang menjadi kru keamanan. Salah saya juga sih, nekat naik panggung hanya demi mendapat angle yang bagus. Batin saya saat itu: “ih, iki mas e gak ruh nek aku anake Pakde Nuri.” Hehehe.. Tapi kan saya tetep salah, jadi ya tak telan aja dibentak-bentak.

Jauh sebelumnya, mas Wiwit pernah diajak Bapak ke rumah. Lalu Bapak memberikan sepeda buat Mas Wiwit. Saya cerita ini bukan bermaksud untuk mengungkit jasa budi. Saya hanya mengenang hubungan kedua almarhum yang baik tersebut.

Dan yang tidak akan saya lupakan adalah, suatu hari saat Kyai Kanjeng pentas di Monumen Serangan Umum 1 Maret, mas Wiwit menyediakan kursi buat saya yang tengah hamil. Terima kasih ya mas..

Untuk banyak hal, melihat Mas Wiwit bermaiyah sampai pagi, memunguti sampah dan menggulung tikar, rasanya saya paham bahwasanya hidup ini sederhana..

Sederhana..

Selamat jalan Mas Wiwit.. Selamat berpulang ke keabadian.. Semoga khusnul khotimah..
Amiiiiin…